Aktivis sosial, Virdian Aurellio mengatakan, generasi muda hari ini tidak peduli terhadap konflik elit. Baik itu konflik hijau-coklat atau TNI-Polri, konflik Solo-Kertanegara atau Jokowi-Prabowo, tukar-menukar koalisi, dan konflik elit lainnya.
“Yang kami peduli ratusan ribu nyawa yang sekarang terancam di republik Indonesia, puluhan ribu anak-anak yang keracunan hari ini, puluhan ribu pelajar yang gagal menjadi mahasiswa karena tidak punya biaya, begitu pun ribuan orang yang meninggal di Sumatera atas bencana ekologis di akhir tahun kemarin, itu yang kamu pedulikan,” kata Virdian dalam Terus Terang Mahfud MD Goes to Campus Universitas Padjadjaran (Unpad) dan juga ditayangkan dalam YouTube Mahfud MD Official, Senin (19/10/2026).
Virdian mengaku kaget ketika mereka datang selama dua pekan di Kalimantan dan itu sudah sekitar 2,5 bulan kebakaran terjadi. Ia kaget karena situasi di sana seakan bencana itu baru terjadi 1-2 hari tanpa ada penanganan serius dilakukan negara.
“Kami tidak terpaku pada saya dapat laporan, kami turun ke lapangan. Kami bicara sama teman-teman relawan mulai dari Banjarbaru, Banjarmasin, Batola, Palangka Raya dan sekitar, kami bertemu teman-teman muda, ada yang bergelut di advokat pembela peladang, ada yang bergelut di BEM, ada yang bergelut di yayasan. Apa jawaban dari mereka semua yang saya simpulkan? Jawabannya adalah menurut saya, kalau tidak ada rasa kolektif untuk warga jaga warga, saya pastikan warga Kalimantan, Borneo itu, sekarang pasti jadi tanah yang tidak punya penghuni manusia lagi,” ujar Virdian.
Ia merasa, wajar saja kepala-kepala daerah ada yang mengajak warga ‘enjoy aja’ menghadapi asap, atau bisa bercanda menyatakan ‘bercerai kawin lagi.’ Pasalnya, setiap hari mereka menghirup udara lewat air purifier yang mahal di rumahnya.
Mereka, Virdian mengingatkan, setiap kali ke luar rumah dikawal memakai mobil-mobil mewah, menggunakan pengawalan aparat, yang tentu tidak akan dirasakan masyarakat. Sementara, masyarakat setiap hari memakai motor dan merasakan asap secara langsung.
“Harga masker di sana bisa Rp 5-10.000 satu piece-nya, di Jakarta cuma Rp 1.500. Dan kalau masyarakat di sana ditanya ramai tidak di jalan? Ramai. Pasar itu ramai, lampu merah ramai, bukan normal, tapi dipaksa normal karena bagi masyarakat kecil ada yang lebih mengerikan dibanding asap karhutla pembakaran dari korporasi dan negara. Yang lebih mengertikan mendengar tangisan anaknya yang tidak bisa beli susu karena bapaknya memilih tidak kerja, protes istrinya yang tidak bisa masak karena tidak ada uang. Jadi, mereka tidak peduli, mereka terobos itu asap,” kata Virdian.
Virdian menekankan, masyarakat terdampak bencana asap akhirnya memilih menerobos asap, menghirup asap di jalan-jalan, demi keluarganya bisa terus hidup. Namun, ia melihat, ada sedikit perbedaan dari bencana asap dengan bencana seperti banjir.
Sebab, ia menyampaikan, bencana-bencana seperti banjir bisa menunjukkan secara langsung korbannya yang terdampak. Sedangkan, Virdian menegaskan, penyakit seperti ISPA saja yang sudah menjangkit anak-anak terdampak merupakan sebuah bom waktu.
“ISPA ini adalah bom waktu. Saya cuma dua minggu, pulang-pulang ada kali lima hari batuk, mereka tiga bulan di sana bukan kuat, dipaksa kuat. Dan sekarang negara menganggap dipaksa kuatnya masyarakat sebagai bentuk dari kenormalan, yang perlu dipertanyakan adalah kenormalan berpikir dari pejabat-pejabat kita,” ujar Virdian. (WS05)
