Hendri Satrio: Komunikasi Bukan Lagi Masalah di Negeri Ini, tapi Sudah Penyakit

Analis komunikasi politik, Hendri Satrio, dalam acara Terus Terang Mahfud MD Goes to Campus Universitas Padjadjaran (Unpad) dan ditayangkan dalam YouTube Mahfud MD Official, Senin (19/10/2026). Foto: Wahyu Suryana
Analis komunikasi politik, Hendri Satrio, dalam acara Terus Terang Mahfud MD Goes to Campus Universitas Padjadjaran (Unpad) dan ditayangkan dalam YouTube Mahfud MD Official, Senin (19/10/2026). Foto: Wahyu Suryana

Analis komunikasi politik, Hendri Satrio, sudah menempatkan ekonomi, hukum, dan komunikasi sebagai tiga besar permasalahan di negeri ini. Tapi, ia berpendapat, belakangan masalah komunikasi sudah tidak sekadar permasalahan di Indonesia.

“Tadinya saya pikir komunikasi ini hanya sekadar masalah. Tapi, semakin ke sini, kita melihat tidak lagi menjadi masalah, sudah mulai menjadi penyakit yang luar biasa yang harus segera diperbaiki. Kali pertamanya saya sejak lulus dari Fikom Unpad saya merasa komunikasi menjadi hal yang sangat penting, itu baru rezim ini,” kata Hensa dalam Terus Terang Mahfud MD Goes to Campus Universitas Padjadjaran (Unpad) dan juga ditayangkan di YouTube Mahfud MD Official, Senin (19/10/2026).

Ia menyampaikan, dirinya sempat bingung ketika diminta memberikan nilai terhadap 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran karena benar-benar tidak ada yang bisa dinilai. Hensa berpendapat, Indonesia hari ini memang sudah terpecah menjadi tiga kelas.

“Kelas yang super kaya yang sudah tidak usah diurus lagi, kemudian kelas menengah seperti kita-kita saat ini yang sama sekali tidak disentuh pemerintah, dan satu lagi kelas bawah. Kenapa ini perlu saya angkat? Saya itu sering sekali bicara dengan tukang bakso, tukang asinan, pengamen, mereka kalau ditanya apakah rezim ini lebih baik dari sebelumnya? Jawaban mereka lebih baik karena saya dapat bansos, saya dapat MBG, walaupun penghasilan saya berkurang, itu kan dilema,” ujar Hensa.

Akhirnya, ia melihat, kelas menengah merasa terhimpit, kelas di bawahnya merasa bahagia kehidupannya oleh pemerintah hari ini. Hal itu dikarenakan semua program-program yang dijalankan Presiden Prabowo memang berfokus kepada kelas bawah.

Itu alasan program prioritas yang ada seperti Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, atau Koperasi Merah Putih. Sementara, Hensa melihat, pejabat-pejabat yang dipilih menjadi pembantu Presiden Prabowo banyak yang kerjanya sebenarnya sangat buruk.

“Kalau kita mau bertanya apakah menteri-menteri Pak Prabowo itu baik-baik, bagus-bagus? Menurut saya banyak menteri gila, menteri gila itu adalah sudah merasa tidak mampu menangani bidangnya, tapi tak mau mundur. Sudah tak mau mundur, bisa-bisanya bicara jabatan ini titipan Allah, kapan saja siap diambil, tapi dia tak mau mundur-mundur kan menyusahkan malaikat ya. Maksud saya gini loh, kalau memang lu sudah tak mampu ya lu mundur saja. Tapi, kan mereka harus menunggu Pak Prabowo reshuffle,” kata Hensa.

Ia berpendapat, permasalahan komunikasi itu membuat banyak masalah-masalah menjadi tidak bisa terselesaikan. Sayangnya, Hensa merasa, permasalahan itu biasanya cuma menjadi pemikiran masyarakat kelas menengah, bukan jadi perhatian dari kelas bawah.

Namun, Hensa menduga, masalah yang ditinggalkan Jokowi sudah sedemikian kompleks sampai Prabowo sendiri kebingungan menempatkan orang-orang terbaik untuk membantu dirinya. Sehingga, kita sudah tidak tahu harus membenahi yang mana terlebih dulu.

“Kita sudah tak tahu nih masalahnya di mana, kalau kelas menengah kan sudah sampai mampus. Mantab, maut, mampus, makan tabungan, makan utang, mampus, maaf kami sudah putus asa, sudah tak ngerti lagi mau bagaimana Pak. Tapi, terus sekarang kita harus menunggu sampai 2029? Terus tiba-tiba muncul soal ijazah, kami akan tunjukkan pada saatnya nanti ijazah itu, kenapa tak saat di MK? Oh tidak, nanti pada waktunya,” ujar Hensa.

Meski begitu, ia meyakini, negeri ini sejelek-jeleknya rakyat memberikan penilaian terhadap pemerintah, pasti Indonesia akan tetap berjalan. Artinya, seburuk apapun kondisi yang sedang dihadapi Indonesia, bangsa ini selalu punya kekuatan bertahan.

Bahkan, ia menambahkan, sudah begitu sejah zaman penjajahan, tidak peduli berapa kali berganti penjajah yang datang. Ironisnya, Hensa mengaku khawatir, pemerintah merasa itu merupakan kekuatan masyarakat, dan biarkan saja mereka berjuang sendiri.

“Jadi, pemerintah tinggal bilang, hai rakyatku inilah Indonesia, silahkan ya survive sendiri-sendiri, silakan. Akhirnya, ya sudah, karena kita diperintahkan survive, kita survive sendiri-sendiri. Caranya ya macam-macam,” kata Hensa. (WS05)