Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Buya Haedar Nashir miris dengan masih maraknya praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan gaya hidup berlebihan.
Haedar mengatakan, nilai-nilai Islam semestinya berjalan seiring dengan perilaku jujur, termasuk dalam memperoleh rezeki dan menggunakan kekuasaan.
“Tuhan murka pada kita yang selalu berkata, tapi tidak konsisten dalam melaksanakannya. Mayoritas muslim, korupsi masih merajalela, bahkan menjadi masif, sistematik, dan terstruktur,” ungkap Haedar miris.
Hal itu disampaikan Haedar pada kegiatan Hari Bermuhammadiyah ke-13 Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) di Auditorium K.H. Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia UMJ, Tangerang Selatan, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Buya Haedar, saat seseorang tak lagi merasa cukup dengan rezeki yang diperoleh secara halal, praktik riswah alias suap, penyalahgunaan kekuasaan dan jabatan, hingga gaya hidup mewah, akam muncul dan pada akhirnya berujung pada praktek korupsi.
Haedar juga menilai masyarakat perlu melakukan pembaruan dalam kehidupan beragama. Menurutnya, pembaruan diperlukan agar nilai-nilai agama berlaku dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Mengutip pesan pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan, agama pada awalnya bercahaya. Akan tetapi, kemudian dapat meredup bukan karena ajaran agamanya, melainkan karena perilaku pemeluknya.
“Bukan karena agamanya, tetapi karena umatnya, karena pemeluknya,” tutur Haedar.
Buya Haedar juga menyoroti rendahnya kesadaran ilmu dan budaya membaca sebagai tantangan bagi kemajuan masyarakat. Kondisi tersebut, sambung Haedar, turut berdampak terhadap rendahnya kemampuan berpikir kritis.
Di sisi lain, Buya Haedar menyebut Muhammadiyah masih mendapat kepercayaan positif dari masyarakat. Ia merujuk survei Litbang Kompas pada 2024 yang menunjukkan 91 persen publik menaruh kepercayaan positif kepada Muhammadiyah.
Survei Lembaga Kebijakan Publik Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta terhadap generasi milenial dan Generasi Z menunjukkan tingkat kepercayaan sekitar 91-92 persen.
Menurut Haedar, tingkat kepercayaan tersebut menunjukkan Muhammadiyah masih memiliki posisi yang kuat sebagai organisasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan yang turut menjaga keberagaman.
“Muhammadiyah berarti masih punya posisi yang konsisten sebagai organisasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan yang bisa merawat, menjaga keberagaman dalam kehidupan masyarakat,” tuturnya.
Haedar berharap, kepercayaan publik harus dijaga dengan memperkuat misi dakwah Muhammadiyah. Dakwah, sambungnya, harus mampu memberikan pencerahan, mencerdaskan, memberdayakan, membebaskan, serta mendorong kemajuan umat, bangsa, dan kemanusiaan. RLS
