Islah Bahrawi: Indonesia Seperti Layangan Tanpa Kendali dan Tanpa Kemudi

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Berani di YouTube Terus Terang Media, Jumat (04/09/2026). Foto: Wahyu Suryana
Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Berani di YouTube Terus Terang Media, Jumat (04/09/2026). Foto: Wahyu Suryana

Tokoh Madura, Islah Bahrawi melihat, Indonesia belakangan ini seperti pesawat yang terbang tanpa pilot, ada kemudi tapi tidak memiliki kendali. Ia juga kerap melihat Indonesia seperti negara yang berjalan tanpa arah, tanpa kompas, dan menuju jurang.

“Kita semua hari ini berusaha untuk meredam dalam kearifan-kearifan berpikir, tapi sebenarnya koordinat kita, tujuan kita, arah negara kita sebenarnya seperti sebuah layangan putus, tanpa kemudi, tanpa kendali, dan kita tidak tahu layangan putus itu akan mendarat di mana. Bisa mendarat di laut lalu robek semua dan hanyut ke dalam ombak di laut itu. Mohon maaf kalau ini sedikit hiperbolis, tapi ini adalah fakta yang terjadi di kita hari ini,” kata Islah kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (04/09/2026).

Ia merasa, negara kita memang betul-betul sedang diuji oleh bencana kebakaran, kericuhan, sampai keracunan. Karenanya, Islah menekankan, jika tanpa pemimpin yang bisa mengendalikan, ujian-ujian itu tentu saja tidak bisa dihadapi dengan baik.

“Kita tidak bisa pasrah begitu saja ketika kritik-kritik juga dibungkam, gerakan-gerakan rakyat yang berusaha menyuarakan ketakutan-ketakutan itu juga tidak bisa disuarakan. Hari ini, kita betul-betul ada di bawah kegamangan dan yang dikatakan Budi Arie jangan-jangan ada benarnya, jangan-jangan memang negara ini sekarang sedang menuju koordinat titik jurang yang sama, sehingga betul-betul kehilangan kendali, bahkan kehilangan harga diri. Ini yang terjadi di negara kita, bisa jadi apa yang dikatakan Budi Arie menjadi tantangan politik kita ke depan,” ujar Islah.

Islah menyoroti pertarungan faksi-faksi politik dan polarisasi politik di bawah karpet sudah terjadi, yang sebenarnya jadi bom waktu. Padahal, ia mengingatkan, pertarungan 2029 masih lama, bahkan Presiden Prabowo belum genap 2 tahun berkuasa.

Tapi, ia menyayangkan, gejala-gejala dan gairah-gairah pertarungan politik yang akan bertempur di 2029 sudah terasa sedemikian hebatnya. Islah menilai, semuanya sudah merasakan tarik-menarik kekuatan politik sudah terjadi di bawah tangan.

“Hari ini kita betul-betul pesimis melihat konfigurasi partai politik yang seolah-olah tidak menyuarakan apa yang diinginkan oleh rakyatnya. Semua terorkestrasi ke arah yang sama. Semua menjilat bersama-sama, semua menjadi jubir pemerintahan yang sama, seolah-olah rakyat tidak lagi punya wakil di gedung parlemen di Senayan sana. Ini yang kita sayangkan. Saya pribadi dan ruang podcast ini hanya bisa membantu untuk tetap bersuara, memberi kritik-kritik yang bisa membangun untuk kemaslahatan kita bersama. Kita tidak boleh diam, kita harus terus bersuara,” kata Islah.

Bagi Islah, kalau kita memilih diam, sama saja menari dalam kegelapan. Respons dari masyarakat harus betul-betul diresonansikan kepada semua penjuru supaya masyarakat berani berteriak kalau memang kita belum merasakan apapun dari keterpurukan ini.

Ia berharap, pada akhirnya seluruh rakyat bisa terus menyuarakan, 280 juta rakyat Indonesia tidak lagi larut dalam diam. Sebab, Islah menilai, bangsa ini memerlukan
martir-martir yang berani menyuarakan kalau negara sedang menuju ke keterpurukan.

“Kita harus bersuara, kita harus berteriak supaya bangsa ini kembali lagi kepada jalur yang benar, kita punya supir yang benar, kita punya setir yang benar, kita punya kompas yang benar. Ini adalah keterpurukan yang luar biasa yang sedang ada di ambang mata. Negara tetangga kita juga tidak bisa kita harapkan karena mereka juga punya tantangan yang sama. Negara tetangga kita hari ini sudah melewati kita semua. Saya, bahkan sering mengatakan Filipina saja yang menurut bahasa visual kita masih di bawah kita, ternyata mereka juga peningkatan ekonominya jauh melewati kita,” ujar Islah.

Bahkan, Islah menambahkan, strata ekonomi Filipina beranjak dari kelas bawah ke kelas menengah dan melewati kita. Pertanyaannya, ia menekankan, Indonesia mau di bawa ke mana dan jawabannya sebenarnya ada dalam hati nurani yang harus disuarakan.

Menurut Islah, rakyat harus bisa terus menyuarakan apa yang diinginkan dan apa yang diharapkan dari pemerintah. Jangan sampai semuanya malah sibuk menjilat demi sebuah jabatan sementara, sehingga semuanya praktis larut dalam keterpurukan yang sama.

“Mudah-mudahan ini jadi maslahat bagi kita semua, kita semua harus tetap bersuara untuk mengutarakan berbagai pemikiran kita demi kemaslahatan kolektif kita bersama, sebagai bangsa yang berdaulat, dan sebagai bangsa yang bermartabat,” kata Islah. (WS05)

Temukan kami di Google News.