Mahfud MD: Siapa Saja yang Berkuasa akan Digoda Lingkungannya untuk Terus Berkuasa

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, saat memberi Orasi Budaya dalam Haul ke-21 Cak Nur yang digelar Nurcholish Madjid Society di Hotel JS Luwansa, Sabtu (29/08/2026). Foto: Faisawqi Dival
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, saat memberi Orasi Budaya dalam Haul ke-21 Cak Nur yang digelar Nurcholish Madjid Society di Hotel JS Luwansa, Sabtu (29/08/2026). Foto: Faisawqi Dival

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD mengatakan, sejarah sudah membuktikan kebenaran adagium ‘power tends to corrupt’ dari Lord Acton. Bahkan, ia mengingatkan, kondisi itu sudah beberapa kali menimpa presiden-presiden yang pernah memimpin Indonesia.

“Karena, kita punya dua presiden, pertama dan kedua, yang sangat baik dari sudut ahlak, nasionalisme, kehidupan pribadi sangat baik semula, tapi pada akhirnya jatuh melalui operasi sesar, tidak jatuh secara normal menurut konstitusi, tapi harus dijatuhkan,” kata Mahfud saat menyampaikan Orasi Budaya dalam Haul ke-21 Cak Nur yang digelar Cak Nur Society di JS Luwansa Hotel Jakarta, Sabtu (29/08/2026).

Ia menceritakan, Soekarno tidak pernah melakukan kampanye-kampanye untuk mengajak rakyat memilihnya menjadi Presiden RI. Pun setelah ditetapkan sebagai Presiden RI, Soekarno tidak pernah merayakan atau membanggakan dirinya menempati posisi itu.

“Nasionalismenya luar biasa tidak diragukan, berani berkorban apa saja untuk Indonesia. Tapi, pada akhirnya terjadi apa yang berlaku dalam dalil ilmu politik itu bahwa power tends to corrupt, kekuasaan itu cenderung disalahgunakan, cenderung dikorupsikan, cenderung menjadi alat korupsi. Bung Karno yang semula merasa tidak harus jadi presiden, untuk apa sih, lama-lama tidak mau berhenti,” ujar Mahfud.

Mahfud menilai, sekalipun Bung Karno mungkin ingin berhenti karena sudah lelah, tapi lingkungannya meyakinkan kalau cuma dia yang bisa memimpin Indonesia. Lalu, ke luar TAP MPRS 3/1963 yang mengangkat Soekarno sebagai Presiden RI seumur hidup.

Padahal, ia menegaskan, TAP itu sudah jelas melanggar konstitusi, tapi kalah oleh orang-orang sekitarnya atau yang Mahfud sering sebut sebagai begundal-begundal. Mahfud menyebut, salah satu caranya terus memberikan Soekarno sanjungan-sanjungan.

“Kalau bukan Bung Karno tak bisa, harus Bung Karno, Bung Karno begitu disanjung-sajung terus, sudah mulai lupa, mulai joget-joget, lenso-lenso, keluarkan Dekrit, menangkapi orang-orang tidak bersalah sampai tidak pernah diadili, sampai akhirnya harus operasi sesar, Anda jatuh. Pak Harto juga presiden yang baik,” kata Mahfud.

Hal serupa dialami Soeharto. Mahfud menyampaikan, Pak Harto merupakan presiden yang baik dan sempat mengemban harapan rakyat yang memulai langkahnya dengan membubarkan PKI. Bahkan, sejarah mencatat beberapa kali Soeharto menolak posisi presiden itu.

Sebelum diangkat, Soeharto turut menyarankan agar Jenderal Nasution yang lebih baik diangkat sebagai presiden, tapi ditolak. Pun setelah menerima, Pak Harto hanya mau menjabat selama 1 tahun, dan setelah itu diadakan kembali pemilihan presiden.

“Akhirnya, sidang MPR. Sesudah sidang MPR betul dibuat TAP MPRS 33/1967 yang isinya memberhentikan Bung Karno secara definitif sebagai presiden, yang kedua mengangkat Soeharto sebagai penjabat presiden selama 1 tahun, ditulis 1 tahun,” ujar Mahfud.

Kemudian, lanjut Mahfud, direncanakan pemilu pada 1968 untuk memilih presiden dan wakil rakyat. Tapi, ia menuturkan, lagi-lagi keinginan untuk terus berkuasa itu muncul dan Pak Harto sampai datang ke MPR untuk meminta jabatannya diperpanjang.

Ia menambahkan, adagium ‘power tends to corrupt’ itu kembali terjadi karena mungkin dia baru menyadari begitu nikmatnya memiliki kuasa luar biasa. Apalagi, Mahfud menekankan, ada pengaruh dari begunda-begundal di sekitarnya untuk terus berkuasa.

“Pada 1973 dipilih lagi, dipilih lagi, dipilih lagi, dipilih lagi sampai 7 kali. Itu penyakit power tends to corrupt, siapa pun yang berkuasa itu akan digoda oleh lingkungannya untuk terus berkuasa, lingkungan itu, begundal-begundal kalau dalam bahasa Alquran namanya pembisik-pembisik jahat itu selalu meminta kamu terus. Kalau bukan Pak Harto yang jadi presiden tak bisa Indonesia, bapak kan Bapak Pembangunan dan sebagainya, akhirnya operasi sesar juga, diturunkan dengan paksa,” kata Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.