Hensa: Tim Komunikasi Presiden Harus Mengevaluasi Diri atau Mengundurkan Diri!

Analis komunikasi politik, Hendri Satrio, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (21/08/2026). Foto: Wahyu Suryana
Analis komunikasi politik, Hendri Satrio, dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (21/08/2026). Foto: Wahyu Suryana

Analis komunikasi politik, Hendri Satrio, mengomentari sering terjadinya pidato Presiden Prabowo yang menuai kontroversi dan mendapat sorotan negatif dari publik. Salah satu yang paling baru diberikan Presiden Prabowo di Sidang Tahunan MPR RI.

Mulai dari kesalahan data sampai pesan-pesan kontroversi disampaikan Presiden Prabowo. Meski begitu, ia berpendapat, yang murni kesalahan Presiden Prabowo sebenarnya terbilang kecil karena dia pasti mendapat masukan dari anak buahnya.

“Nah, saat ini di pemerintahan Prabowo itu tiga besar masalah yang ada itu ekonomi, hukum, dan komunikasi. Nah, komunikasi ini memang menjadi masalah karena timnya Prabowo yang memang harus take care (mengurusi) komunikasi tidak menganggap kalau komunikasi itu penting,” kata Hensa kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Jumat (21/08/2026).

Ia melihat, lingkaran Prabowo yang seharusnya menangani komunikasi tampak tidak merasa komunikasi penting, sehingga tidak terlalu serius mengerjakannya. Banyak pula orang-orang di lingkaran Prabowo sebenarnya belum mampu jadi tim komunikasi.

Padahal, ia berpendapat, mungkin saja secara pendidikan maupun pengalaman belum terbilang memadai dan dasarnya hanya karena merasa mampu. Ia menilai, kondisi ini menyadarkan mereka kalau pendidikan itu penting dan komunikasi itu tidak mudah.

“Pada saat ini berulang seharusnya tim komunikasinya Presiden itu mengevaluasi diri sendiri, kalau memang tidak mampu ya sudah resign saja, mengundurkan diri daripada lu merepotkan negara. Sebetulnya tidak usah takut tidak punya pekerjaan, curiganya ini begini banyak banget pembantu Presiden yang ogah berkomunikasi karena dia takut blunder, takut salah, takut nanti di-reshuffle, kehilangan pekerjaan,” ujar Hensa.

Apalagi, Hendri melihat, tidak semua pembantu-pembantu Presiden Prabowo, termasuk menteri-menteri, meritokrasi atau menempati posisi sesuai kepakaran. Karenanya, ia berharap, mereka yang tidak mampu memberi masukan positif mendungurkan diri saja.

“Kalau memang lu tidak mampu ya sudah lu resign saja, tidak apa-apa kok jadi kayak Hendri Satrio, jadi kayak Intan, yang biasa-biasa saja menjadi rakyat, tidak harus dikawal ke mana-mana, tanpa jabat-jabat kita hidup juga. Kan mereka sering bilang tuh jabatan titipan Allah, kapanpun Allah mau ambil kamu harus rela. Begitu saja prinsipnya kalau memang sudah tidak bisa daripada merepotkan Presiden,” kata Hensa.

Bagi Hendri, ada semacam gap kualitas antara Presiden dengan menteri-menteri di Kabinet Merah Putih. Beberapa sering pasang badan untuk Presiden, tapi banyak pula menteri-menteri yang tidak dalam posisi dan kapasitas sebagai menterinya Prabowo.

“Kan kasihan Pak Prabowonya, dia salah melulu, kasihan juga nih Prabowo menurut gue ya. Jadi, begini lah, Pak Prabowo ini kurangnya banyak ya, tapi apakah kurangnya dari dia saja atau dari menteri-menterinya, ya itu mungkin perdebatannya jauh, termasuk kan salah satunya yang memilih menterinya Prabowo juga,” ujar Hensa.

Selain itu, Hensa merasa, pidato Presiden Prabowo banyak menuai sorotan negatif karena ada semacam permasalahan kepercayaan dari masyarakat terhadap pemerintah. Apalagi, banyak orang menilai keadaan negara dengan melihat keadaan diri sendiri.

Misal, ketika Presiden Prabowo bilang sudah ada puluhan ribu siswa sekarang sudah bersekolah di Sekolah Rakyat, kecil dibanding sisanya yang belum bersekolah. Pun lapangan kerja yang masih tidak sesuai janji kampanye yang disampaikan Prabowo.

“Jadi, orang tuh, kenapa Presiden tidak mudah menyenangkan semua orang? Karena kondisi rakyat secara yang lebih besar itu tidak seperti yang dia gambarkan di pidato-pidato itu. Ada 43.000 kalau tidak salah siswa Sekolah Rakyat, itu kan jika dibandingkan siswa-siswa lain masih banyak. Lalu, 2,5 juta lapangan pekerjaan, kan 19 juta harusnya janjinya. Jadi, memang masih banyak tantangannya sih,” kata Hensa. (WS05)

Temukan kami di Google News.