Mahfud MD Ingatkan Bahaya Serakahnomic dan Eksploitasi Alam Saat Khutbah Jumat di Istiqlal

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, saat menjadi khatib shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Jumat (26/06/2026). Foto: Faisawqi Dival
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, saat menjadi khatib shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Jumat (26/06/2026). Foto: Faisawqi Dival

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD mengatakan, Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya alam. Ada setidaknya 17.508 pulau yang masing-masing mempunyai kekayaan alam luar biasa, hampir semua jenis sumber daya alam dimiliki Indonesia.

Maka itu, ia menekankan, semua merupakan karunia Indonesia, dan kita sudah membuat banyak aturan-aturan hukum yang harus diikuti agar alam itu lestari. Hal itu turut dimaksudkan untuk mencegah keserakahan dari manusia dalam mengeksploitasi alam.

“Keserakahan manusia seperti disebutkan dalam ayat-ayat Alquran tadi sering kali merusak alam. Karena manusia serakah, maka melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap alam tanpa menjaga kelangsungannya, tanpa menjaga keseimbangannya,” kata Mahfud saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Istiqlal, Jumat (26/06/2026).

Mahfud mengingatkan, Indonesia merupakan negara yang berdaulat dan memiliki hukum-hukum yang sudah diatur oleh negara untuk kebaikan kita bersama, termasuk untuk menjaga alam. Karenanya, penting untuk kita menaati aturan-aturan hukum tersebut.

“Pengusaha, silakan eksploitasi sumber daya alam ini, tapi Anda jangan terjebak ke dalam situasi serakahnomic, ekonomi serakah seperti yang dikatakan Bapak Presiden kita, semuanya ingin dimiliki, semuanya ingin dimakan, semuanya ingin ditumpuk, padahal tidak dimanfaatkan dan hanya ditumpuk, sementara alamnya dirusak. Maka, bisa terjadi kemarahan karena alam menagih haknya untuk dilestarikan,” ujar Mahfud.

Ia menyebut, alam bisa mengirim rekening-rekening tagihan ke manusia untuk bisa memperbaiki hubungan dengan alam, membangun etika dan penghormatan terhadap alam. Mahfud menilai, sikap tidak peduli atas alam bisa menyebabkan kita ditimpa bencana.

“Kita harus menyadari bahwa sebagai sesama mahluk Allah SWT, kita mempunyai tugas masing-masing dengan alam. Kita yang menanam benihnya, alam menyediakan pupuknya, menjaganya dari banjir, menjaganya dari hama, itu tergantung dari kita semua dalam berhubungan dengan alam karena kehidupan ini merupakan ekosistem yang saling kait-mengait. Harus ada batas-batas moral untuk memanfaatkan alam ini,” kata Mahfud.

Mahfud mengingatkan, jika manusia seenaknya menggunakan alam sesuai nafsu, jangan salahkan alam yang bisa pula memakai caranya sendiri mempertahankan haknya. Bahkan, Allah berfirman telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat tangan manusia.

Terutama, lanjut Mahfud, manusia yang tidak memperhatikan hak-hak alam. Sebab, ia menilai, Allah SWT bisa saja turun tangan melalui alam untuk mengingatkan manusia. Ia menyebut, berbagai bencana bisa jadi merupakan tagihan dari alam kepada manusia.

“Oleh sebab itu, mari kita menyadari bahwa sayang sekali banyak manusia di antara kita ini yang suka merusak alam karena serakah, sehingga alam rusak dan bereaksi dengan berbagai bencana. Itu semua sekali lagi semacam merkening atau tagihan alam agar kita memulihkan hak-haknya dan kalau kita tidak memperhatikan itu, maka kemungkinan kemusnahan kita sebagai mahluk akan terjadi pada saatnya,” ujar Mahfud.

Hal itu sudah banyak disebutkan dalam Al Qur’an, betapa banyak kelompok manusia musnah karena azab dari Allah, ketika Allah menggunakan alam untuk menuntut haknya. Allah berfirman, jangan kamu berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaiki.

Mahfud menambahkan, manusia bukan penguasa di bumi, melainkan wakil pelaksana untuk kebaikan di bumi. Karenanya, menghormati alam itu menghormati manusia, dan penting menyiapkan hidup untuk generasi mendatang, jangan cuma serakah mencari kekayaan.

“Melainkan sekaligus menjaga kelestariannya, jangan terjebak dalam ekonomi serakah karena menjaga alam bukan sekadar kewajiban ekologis, tapi lebih dari itu kewajiban moral. Mari kita bangun, perkuat ketakwaan kita kepada Allah dengan memperkuat hubungan harmonis, hubungan yang baik dan ketaatan kepada Allah SWT, memperindah hubungan antar manusia dan memperbaiki hubungan kita dengan alam,” kata Mahfud. (WS05)