Khutbah Jumat di Masjid Istiqlal, Mahfud MD Ajak Umat Jaga Alam dan Jangan Rusak Alam

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, saat menjadi khatib shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Jumat (26/06/2026). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, saat menjadi khatib shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Jumat (26/06/2026). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, menjagi khatib shalat Jumat di Masjid Istiqlal. Dalam khutbahnya, ia mengajak umat untuk selalu bertakwa, menjaga ketakwaan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Sebab, ia menilai, itu yang bisa menjamin kita bisa hidup aman dan nyaman, yang implementasinya bisa dilakukan lewat banyak cara.

Mahfud mengambil perspektif yang cukup jarang ditemui yaitu takwa dengan menjaga hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan alam. Ia menjelaskan, banyak ayat yang sebenarnya sering dipakai untuk menyatakan pentingnya menjaga hubungan tidka hanya kepada Allah dan manusia, tapi kepada alam. Misalnya, surat Al Baqarah ayat 205.

“Allah berfirman apabila manusia berpaling dari tali Allah, maka ia akan berusaha di bumi ini untuk membuat kerusakan di dalamnya serta merusak tanaman dan membunuh atau membasmi ternak-ternak, dan Allah tidak menyukai kerusakan. Ini menjelaskan kepada kita hendaknya kita jangan merusak alam, jangan berbuat kerusakan di bumi,” kata Mahfud, Jumat (26/06/2026).

Ia menuturkan, ayat itu menegaskan kalau ternak-ternak dan tanaman-tanaman semua merupakan ekosistem kehidupan. Mahfud mengingatkan, alam memiliki hak intrinsik sendiri yang melekat kepada dirinya, di mana alam turut mendapat perlindungan dari Allah dan kita sebagai manusia wajib menyejahterakan, bekerja sam dan bersinergi.

“Kita tidak boleh merusak alam karena perusakan terhadap alam itu akan menyebabkan kehancuran ekosistem. Jika hak-hak alam itu dirusak atau dilanggar, maka alam akan bereaksi sesuai ketetapan Allah SWT, memberi tenaga, memberi energi kepada alam untuk bereaksi menagih hak-haknya kepada kita dengan berbagai cara,” ujar Mahfud.

Ada yang berupa tersebarnya penyakit karena kita sembarangan membuang sampah tanpa memperhatikan kebersihan lingkungan hidup. Ada yang seluruh penduduk desa atau kampung tersebut terkena penyakit yang sangat membahayakan karena kerusakan pantai. Lalu, masuknya kimia-kimia yang dibuang ke pantai, lalu ikannya dikonsumsi manusia.

Akibatnya, lanjut Mahfud, manusia itu sendiri yang akan terkena penyakit. Mahfud menekankan, itu semua merupakan reaksi alam dan bencana alam yang kerap kali terjadi merupakan cara alam menagih hak-hak mereka untuk dijaga dan dilestarikan. Apalagi, menanggapi sikap manusia yang melakukan eksploitasi secara berlebihan.

“Berlebih memotong kayu-kayu hutan tanpa reboisasi, deforestasi tanpa reforestasi yang seimbang, itu yang dalam jangka panjang menyebabkan alam ini menjadi rusak,” kata Mahfud.

Ia menambahkan, alam bisa mengaku dan itu bisa dilakukan saat kita masih ada dan menikmati alam, tapi bisa pula menimpa generasi-generasi sesudah kita. Bahkan, Mahfud menegaskan, alam bisa menagih hak-hak mereka dengan melakukan protes keras melalui peristiwa-peristiwa alam, mulai dari yang ringan sampai yang mengerikan.

“Banjir dan longsor karena penebangan pohon dan hutan secara melampaui batas, itu supaya dihindari, kita jaga bersama jangan sewenang-wenang memperlakukan alam,” ujar Mahfud. (WS05)