Mahfud MD Kagumi Tradisi Palopo, Seorang Pemimpin Tidak Boleh Kaya Sebelum Rakyatnya Makan Semua

(tangkapan layar). Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, saat memberi Kuliah Umum di UIN Palopo, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, Senin (15/06/2026). Foto: Wahyu Suryana
(tangkapan layar). Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, saat memberi Kuliah Umum di UIN Palopo, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, Senin (15/06/2026). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, mengungkapkan kekaguman atas salah satu tradisi di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, tentang seorang pemimpin tidak boleh kaya sebelum seluruh rakyatnya makan. Ini diketahui Mahfud saat memenuhi undangan sahabatnya, Datu Maradang Mackulau, dan diceritakan saat mengisi kuliah umum di UIN Palopo.

“Saya lihat ya, ini saya berbisik dengan teman-teman, kok Datu-nya ini kan teman saya sekolah, kok tidak kaya-kaya, saya bilang karena dulu kan teman saya sekolah dan punya keraton seperti itu. Katanya, di sini kearifan lokalnya, seorang pemimpin itu tidak boleh kaya sebelum rakyatnya makan semua,” kata Mahfud saat memberikan Kuliah Umum di UIN Palopo, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, Senin (15/06/2026).

Mahfud turut menceritakan prosesi adat yang dijalaninya, tepatnya ketika seluruh makanan sudah dihidangkan di depan mereka. Tapi, ia mengaku bingung, karena Sang Datu tidak pula makan, dan baru makan setelah semua tamu yang hadir selesai makan.

“Sudah ada nih makan, tinggal makan saja, Sang Datu ini tidak mau makan. Lihat kanan-kiri, sesudah yang di depan makan semua selesai, baru dia makan. Kenapa? Kenapa dia makannya sesudah rakyat? Karena di sini ada kearifan budaya, bahwa seorang pemimpin itu jangan makan dulu sebelum memastikan bahwa rakyatnya makan. Itu nilai-nilai budaya yang sebenarnya masuk ke Undang-Undang Dasar (UUD) kita,” ujar Mahfud.

Ia menekankan, Pasal 31 ayat 3 UUD sudah menyatakan pemerintah menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional berdasarkan iman, taqwa, dan akhlak mulia. Baru di ayat 5, ilmu pengetahuan dan teknologi diselenggarakan untuk majukan pendidikan.

Yang mana, pendidikannya diselenggarakan berdasarkan nilai-nilai agama, budaya, dan persatuan bangsa. Filosofi dan pilar-pilar dari pendidikan sudah pula dijelaskan dibangun lewat nilai-nilai agama, budaya, dan selalu mengutamakan kesatuan bangsa.

Maka itu, ia mengingatkan, nilai-nilai agama, budaya, dan menjaga keutuhan bangsa berada di atas ilmu pengetahuan dan teknologi. Mahfud memahami, bagi anak-anak muda iptek mungkin mudah, tapi moral dan etika merupakan sesuatu yang sulit ditanamkan.

Berbeda dengan iptek yang bisa diajarkan, moral dan etika baru bisa ditanamkan dengan cara dididik. Karenanya, Mahfud berpesan, perguruan-perguruan tinggi, seperti UIN Palopo, harus menjadi contoh mendidik, bukan sekadar mengajar.

“Nah, saudara sekalian, bagaimana kalau pendidikan itu tidak dilaksanakan berdasar nilai-nilai moral dan agama? Akhirnya, yang terjadi satu tadi, pengkelasan di dalam masyarakat. Kedua, dia tidak bertanggung jawab di tengah masyarakat. Maka, muncul gugatan-gugatan, banyak korupsi, banyak mafia hukum, bukan cuma mafia peradilan,” kata Mahfud. (WS05)

Temukan kami di Google News.