Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, mengungkapkan alasan ikut menuangkan pikiran-pikiran lewat dunia digital, salah satunya lewat YouTube. Ia mengatakan, itu dalam rangka menyampaikan aspirasi dan pikiran-pikiran yang sehat bagi bangsa dan negara.
Bagi Mahfud, itu semua ikhtiar yang layak dilakukan dengan harapan masih bisa ikut mempengaruhi jalannya negara ini agar menjadi lebih baik. Ia berharap, pikiran-pikiran sehat yang dimiliki masih bisa didengar oleh siapa saja yang berkuasa.
“Karena kalau sudah tidak mau mendengar nanti biasanya itu kepentuk sendiri. Tidak mau mendengar pikiran-pikiran sehat, selalu dianggap musuh, dianggap antek asing, dianggap apa, misalnya Anda nuduh saya antek asing, antek asingnya dari mana ya,” kata Mahfud dalam GoodTalk di YouTube Good News From Indonesia, Sabtu (06/06/2026).
Padahal, ia mengingatkan, satu-satunya yang bisa bekerja sama seperti meminjam uang atau meminta investasi ke pihak asing tidak lain pemerintah sendiri. Jika begitu, Mahfud malah mempertanyakan, sebenarnya siapa yang kerap dituduh antek-antek asing.
“Kalau misalnya pemerintah sudah jelas pinjam uang ke orang asing, investornya orang asing, terus siapa yang antek-antek asing? Oleh sebab itu, kita tidak boleh selalu dipandang sebagai antek-antek asing yang maunya destruktif, tapi mau ikut berbagai karena rasa cinta kita kepada bangsa dan negara ini,” ujar Mahfud.
Mahfud turut merespons survei-survei optimisme yang dilakukan GNFI sejak 2018 kepada sebagian besar responden anak-anak muda. Yang mana, selama 6 tahun itu sekotr politik dan hukum selalu mendapati skor yang paling rendah atau pesimis.
Hal itu ternyata turut dibaca mempengaruhi harapan anak-anak muda terhadap masa depan Indonesia di sektor politik dan hukum. Secara umum, Mahfud merasa, banyak masyarakat memang pesimis dan menganggap hukum dan politik alami regresi terpuruk.
Semua dikonfirmasi fakta survei-survei yang turut menyatakan memang politik dan hukum, termasuk demokrasi, mengalami regresi yang luar biasa. Meski begitu, Mahfud menegaskan, harapan akan selalu ada dan pintu-pintu perbaikan senantiasa terbuka.
“Ya ada saja harapan. Pertama, begini. Negara kita ini adalah negara hukum atau negara demokrasi konstitusional. Nah, demokrasi dan konstitusi itu selalu membuka peluang bagi terjadi sirkulasi kekuasaan, tidak mungkin ada kekuasaan yang abadi. Kalau normal kekuasanya itu jatuh dan diperbarui setiap pemilih. Kalau tidak normal biasanya selesai di tengah jalan dan itu di Indonesia sudah terjadi berkali-kali,” kata Mahfud.
Maka itu, ia menambahkan, kita sebagai rakyat jangan pula berhenti mencari pintu-pintu potensi yang masih ada untuk menyuarakan aspirasi dan pikiran-pikiran sehat. Terlebih, Mahfud menekankan, Indonesia memiliki konstitusi sebagai pedoman hidup.
Lalu, lanjut Mahfud, Indonesia merupakan negara demokrasi yang senantiasa membuka pintu terjadinya sirkulasi kekuasaan. Serta, kritik-kritik yang sekarang bebas disampaikan harus bisa dimanfaatkan dalam rangka membawa Indonesia lebih baik lagi.
“Kritik kan sekarang bebas, bebas mengeritik pemerintah, pemerintah sendiri bebas membentuk buzzer untuk melawan pengeritik. Iya, tidak apa-apa kalau itu semuanya ingin menyatakan dirinya benar, menyatakan bahwa Indonesia yang benar begini,” ujar Mahfud. (WS05)
