Bukan Cuma Rupiah, Tekanan Global Berdampak Melemahnya Mata Uang Lain

Ekonom senior, Halim Alamsyah, dalam program B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (10/06/2026). Foto: Wahyu Suryana
Ekonom senior, Halim Alamsyah, dalam program B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (10/06/2026). Foto: Wahyu Suryana

Ekonom, Halim Alamsyah mengatakan, publik dalam negeri tampak banyak yang belum memahami kalau tekanan global tidak cuma berdampak kepada melemahnya nilai tukar rupiah. Terutama, pengaruh perang yang masih terjadi antara Iran dan AS-Israel.

“Karena mengakibatkan harga minyak naik, harga minyak naik berarti kita impor cukup besar, tentu berarti biaya untuk impor naik. Nah, itu menyebabkan juga kekhawatiran Indonesia akan mengalami defisit fiskal yang makin besar, itu yang juga salah satu depresiasi,” kata Halim kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Bicara Ekonomi Politik (B.E.P) di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (10/06/2026).

Ia menekankan, pada 2025 saja mata uang yang paling berat mengalami depresiasi bukan Indonesia. Halim mengingatkan, depresiasi mata uang paling berat dialami Won Korea Selatan, walaupun didukung transaksi ekspor yang mengalami surplus besar.

“Secara teoritis, kalau ekspor lebih besar dari impor artinya Korean Won harusnya menguat, yang terjadi malah dia parah sekali. Di 2025 paling besar minus 11 persen. Di 2026 dari Januari sampai akhir Mei ternyata masih terdepresiasi 8 persen. Kita tahun lalu 4 persen, tapi tahun ini memang sangat parah, 8,38 persen,” ujar Halim.

Secara total, ia menerangkan, depresiasi yang paling parah untuk Won sampai 15 persen, sedangkan Rupiah di 11 persen atau 14 persen, tergangung angkanya. Intinya, Halim menegaskan, Rupiah memang bukan satu-satunya mata uang yang terdepresiasi.

Halim menyampaikan, kondisi yang tidak jauh berbeda dialami Rupee India dan Peso Filipina. Meski begitu, ia menilai, itu tidak membantah ada masalah yang dialami Indonesia karena kredibilitas kebijakan dalam negeri kita masih dipertanyakan.

“Terutama, sisi fiskal. Sekarang, ketika Bank Indonesia (BI) memberikan sedikit ibaratnya pause, dulu kalau kita nonton film itu ada pause-nya, ini disetop dulu sebenar, kita tarif nafas, ini sudah diberikan ruang, jangan sampai disia-siakan,” kata Halim.

Selain itu, ia menyampaikan, pasar modal di AS mengalami kenaikan sangat tinggi dalam beberapa waktu terakhir karena kemajuan Artificial Intelligence (AI). Itu membuat dana-dana luar negeri tidak dibawa ke negara-negara yang masih rentan.

Artinya, lanjut Halim, ada semacam ekspektasi investasi baru yang lebih menarik di AS, tidak cuma karena posisi Dollar AS. Itu yang mendorong nilai tukar dari mata uang negara-negara berkembang, bahkan seperti Won Korea Selatan sampai hancur.

“Ini loh maksud saya, bahwa kita sudah diberikan kesempatan, kita bisa memperbaiki situasi pause-nya dulu. Tapi, jangan sampai kita lengah, ini kita harus lanjutkan dengan langkah-langkah yang lebih fundamental, langkah-langkah yang perlu segera disampaikan ke pasar dalam waktu dekat ini supaya momentum ini bertahan ke depan,” ujar Halim.

Halim menambahkan, pasar masih belum percaya ke Indonesia. Bahkan, beberapa fund manager di luar negeri yang cukup besar, seperti dari London, terang-terangan menyebutkan kalau mereka saat ini tidak percaya untuk menaruh uang di Indonesia.

Indonesia, Halim menilai, masih belum dilihat sebagai tempat aman mengalokasikan modal dengan perspektif jangka panjang. Di dalam negeri sendiri kondisi yang sempat dialami Shell Indonesia, misal, turut memberikan dampak kepercayaan kepada pasar.

“Karena tren dari kebijakan di Indonesia itu masih sifatnya interventionist policy. Maksudnya, itu peran dari pemerintahnya yang masuk ke sektor ekspor, MBG, Koperasi Merah Putih, mengurangi swasta, segala macam. Ini masalah kita sekarang, bahwa antara keyakinan pemerintah bahwa langkah-langkah yang dilakukan itu baik, kita no doubt. Namun, ada beberapa kebijakan itu yang dampaknya tidak bisa serta-merta. Sementara, pasar keuangan khususnya itu hidup berdasarkan ekspektasi,” kata Halim. (WS05)

Temukan kami di Google News.