Dampak Perang Iran Diprediksi Berlangsung Lama, Termasuk Dirasakan Indonesia

Ekonom, Halim Alamsyah, dalam program Bicara Ekonomi Politik (BEP) di kanal YouTube Terus Terang Media, Senin (06/04/2026). Foto: Wahyu Suryana
Ekonom, Halim Alamsyah, dalam program Bicara Ekonomi Politik (BEP) di kanal YouTube Terus Terang Media, Senin (06/04/2026). Foto: Wahyu Suryana

Banyak analisis memprediksi intensitas perang AS-Israel kontra Iran akan mengalami peningkatan 2-3 pekan ke depan. Ekonom senior, Halim Alamsyah khawatir, Iran akan mengambil langkah sama demi menghantam kekuatan-kekuatan AS-Israel di Timur Tengah.

Jika begitu, ia berpendapat, industri manufaktur yang diproduksi kawasan itu akan terdampak. Tidak saja migas, tapi ada pupuk, petrokimia, helium, serta smelter-smelter yang cukup besar seperti smelter nikel, aluminium, termasuk biji besi.

“Itu karena menggunakan sumber energi yang murah di situ. Jadi, ini dampaknya nanti tidak saja kepada minyak, tapi juga kepada harga bahan pangan dan juga bahan baku industri manufaktur,” kata Halim kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program B.E.P di kanal YouTube Terus Terang Media, Senin (06/04/2026).

Halim menilai, kenaikan harga bahan bakar energi di dunia, termasuk di Indonesia, bukan satu-satunya dampak. Sebab, ia mengingatkan, harga bahan-bahan yang dipakai untuk produksi pangan, terutama untuk Indonesia, mungkin akan turut terdampak.

“Karena kita basis industrinya mungkin tidak seluas di negara-negara lain yang industri manufakturnya penting sekali. Industri manufaktur kita menurun dalam 20 tahun terakhir, jadi ini yang kita perlu awasi bahwa dampak dari perang Iran ini, kalau menurut hemat saya, walaupun dia akan berhenti, itu dampaknya kurang lebih akan jangka panjang ini, tidak akan bisa cuma selesai 1-2 bulan,” ujar Halim.

Halim melihat, kenormalan setelah selesai perang sekalipun membutuhkan waktu. Ia menyampaikan, Kementerian Energi Qatar saja untuk membangun infrastruktur minyak dan gas yang terdampak menyatakan butuh waktu sekitar 2-3 untuk memperbaiki itu.

Padahal, ia menuturkan, infrastruktur bernama Ras Tanura yang jadi salah satu penghasil minyak paling besar itu hanya terkena 1-2 misil dari Iran. Belum lagi infrastruktur di Iran sendiri yang memang memegang supply chain global penting.

Artinya, dampak perang sendiri mungkin setelah selesai, selain menghasilkan banyak kerusakan, mungkin korban jiwa yang tentunya sangat memperhatinkan, juga dampak politik internasionalnya. Jadi, Iran mungkin akan sibuk memperbaiki kerusakan.

“Tapi, bagi kita dan masyarakat dunia efeknya nanti kepada ekonomi kita, terutama dari sisi harga-harga dan ketersediaan supply beberapa barang-barang yang kita juga pakai, itu mungkin dampaknya tidak akan 1-2 bulan, ini akan alam,” kata Halim.

Terkait kondisi terkini, kabar menyebut AS mengirim sampai 50.000 pasukan darat ke Timur Tengah. Banyak yang menduga AS berencana menghancurkan titik-titik penting di Iran sebelum pergi agar Iran tidak dalam posisi mengancam satu dekade ke depan.

Halim berharap, kabar ini tidak benar dan rencana AS itu tidak terjadi karena dampak yang dihasilkan bisa sangat masif karena Iran tidak mungkin hanya diam. Terlebih, serangan-serangan Israel sudah tidak hanya menargetkan unsur militer.

“Kalau terjadi dampak ini akan masif nih kalau menurut saya, masif dalam pengertian tidak mungkin Iran diam saja dihantam bertubi-tubi. Sekarang pun sudah setiap hari kan dihantam oleh Israel, terutama berbagai sasaran yang dipilih sudah tidak peduli lagi apakah itu ada unsur militernya atau unsur masyarakat sipilnya, dia hantam saja dengan asumsi bahwa di situ ada sasaran yang dia ingin capai,” ujar Halim. (WS05)