Berkembangnya teknologi informasi turut membuat cara-cara ‘love scam’ atau penipuan berkedok asmara bervariasi. Nurlaila Indriani dari Bidang Hukum Relawan Siaga Cerdas mengatakan, pendekatan biasanya dilakukan dengan menjalin hubungan.
Tujuannya, kata Indri, supaya korban mudah untuk diarahkan. Ketika pelaku memberi perhatian, korban merasa menemukan orang yang perhatian. Apalagi, korban diberikan semangat dengan rutin menanyakan kabar mulai dari pagi, siang, sampai malam.
“Itu pasti selalu by chat gitu. Jadi, korban ini merasa bahwa kok ada orang yang perhatian, dia intens dulu. Tapi, kalau korbannya tidak membalas, dia tidak akan mendesak, ada jeda waktu, dan dia itu cukup sabar sampai akhirnya korban ini merasa bahwa ini orang baik,” kata Indri kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (04/02/2026).
Modusnya, lanjut Indri, bervariasi. Ia menerangkan, kasus-kasus ‘love scam’ sudah ada sejak 2012 yang modusnya dulu kerap menggunakan foto-foto TNI/Polri. Biasanya, pelaku menargetkan tenaga kerja wanita yang sudah berpenghasilan sebagai korban.
“Modusnya itu mereka mengatakan kalau TNI/Polri itu, saya mau mutasi, jadi saya butuh dana untuk mutasi, tolong dibantu. Nah, tapi itu terjadi setelah membangun kepercayaan itu tadi. Korban membantu karena merasa bahwa ini calon suami saya,” ujar Indri.
Ada pula modus yang dilakukan dengan mengirim paket atau mengaku sebagai tentara perdamaian yang sedang bertugas di negara-negara konflik. Bahkan, ia menyampaikan, sangat banyak pelaku mahir menggunakan Bahasa Inggris mengaku dari luar negeri.
“Jadi, di titik tertentu itu sangat meyakinkan untuk korban karena dia akan kirim foto setiap saat, memberikan kabar setiap saat. Nah, foto-foto itu kadang-kadang meyakinkan korbannya karena intens, merasa ini kayaknya benar, tidak mungkin fake,” kata Indri.
Indri mencatat, pada 2024 saja sudah lebih dari 100 kasus yang masuk, itupun kasus yang korbannya mau memberikan data secara lengkap. Artinya, ada angka korban yang jauh lebih besar, tapi tidak tercatat atau tercatat tanpa memberikan data lengkap.
Kini, ia mengungkapkan, banyak kasus-kasus ‘love scam’ yang menggunakan modus investasi. Jadi, pelaku mengajak korban untuk berinvestasi, dan banyak pula yang mengajak calon-calon korban investasi untuk nanti sebagai modal mereka menikah.
“Sebetulnya kalau untuk pelaku itu kan macam-macam ya. Jadi, ada kalau waktu itu ada yang Nigerian Scammer, lalu ada yang memang pelakunya itu orang China, lalu yang terakhir ini dikendalikan atau akhirnya transfer ke Kamboja,” ujar Indri. (WS05)
