Diminta Rp 200 Juta oleh Wartawan untuk Tutupi Kasus, Mahfud MD Beri Jawaban Mengejutkan

Menkopolhukam periode 2019-2024, Mahfud MD, dalam program Perspektif One on One di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (25/01/2026). Foto: Wahyu Suryana
Menkopolhukam periode 2019-2024, Mahfud MD, dalam program Perspektif One on One di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (25/01/2026). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, mengungkapkan cerita mengejutkan pernah coba diperas oleh wartawan. Itu terjadi ketika Mahfud menjadi Menteri Pertahanan di era Presiden Gus Dur, dan didatangi 3 wartawan yang meminta uang untuk menutupi kasus.

“Pak di kantor Bapak ini ada korupsi, di mana, di kantor Kemhan, terus bagaimana, saya ingin tahu, tidak Pak, kalau ingin tidak dibongkar agar kami diam tidak dimuat di koran, saya diminta uang, minta Rp 200 juta, kecil waktu itu, bagi saya besar sekali,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan juga ditayangkan dalam program Perspektif One on One di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (25/01/2026).

Sebagai dosen yang kala itu memiliki gaji Rp 4,5 juta dan baru saja jadi menteri, angka itu jelas fantastis. Bahkan, saat itu angka Rp 200 juta setara dengan hampir 45 kali gaji yang diterimanya dalam sebulan sebagai dosen perguruan tinggi swasta.

“Terus saya bilang, saya bayar kamu Rp 200 juta asalkan kamu bongkar siapa yang korupsi kasih tahu saya, saya bilang. Dia tidak sanggup, dia hanya mau memeras. Kasih orangnya, tapi kalau kamu tidak kasih nama orangnya yang korupsi, tidak saya kasih uang. Justru, tugasnya kasih ke saya. Akhirnya, pergi dia, tidak berani,” ujar Mahfud.

Pada kesempatan itu, jurnalis senior, Hamid Basyaib, turut mengungkapkan kisah soal integritas Mahfud MD sejak lama. Ia membenarkan, komitmen itu sudah diucap Mahfud 25 tahun lalu saat diminta jadi Menhan oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Saya orang pertama yang datang menyalami, dan saya kaget karena harus ketemu di Hilton, saya tahu Anda belum punya indekos di sini. Datang ke Hilton dan tiba-tiba sudah dijaga beberapa personel, saya kaget. Pertama saya tanyakan, kenapa Anda jadi Menteri Pertahanan,” kata Hamid, yang juga banyak menulis buku tentang Gus Dur.

Saat itu, lanjut Hamid, Mahfud sempat salah mengira Gus Dur memintanya jadi Menteri Pertanahan, tapi ternyata yang dimaksud Menteri Pertahanan. Walau belum tahu yang akan dilakukan sebagai Menhan, ternyata Mahfud mengucapkan satu komitmen kala itu.

“Apa yang mau Anda lakukan? Ya lihat dulu Anda bilang, macam-macam mungkin saya juga belum tahu, belum masuk kantor, tapi ada satu yang pasti Anda bilang waktu itu, saya tidak akan nyentuh-nyentuh urusan uang, urusan anggaran,” ujar Hamid.

Cerita itu dibenarkan Mahfud. Ketika ditanya alasannya, Mahfud mengaku memang takut tergoda dengan urusan-urusan uang. Selain itu, Mahfud mengaku sangat malas terlibat dalam urusan-urusan uang, dan lebih nyaman mengurus program-program atau kebijakan.

Maka itu, langkah pertama yang dilakukan sebagai Menhan tidak lain mengundang ahli-ahli pertahanan untuk bertukar pikiran. Mahfud yang masih awam malah meminta pakar-pakar itu untuk memberinya kuliah agar dapat membuat kebijakan yang dibutuhkan.

“Nah, kalau urusan uang ya gitu kadang kala bagaimana ya, saya tidak mengerti proyek-proyek itu bagaimana cara ngurusnya, saya tidak pernah mengurus proyek,” kata Mahfud yang sampai hari ini masih terus memegang komitmen tersebut. (WS05)