Walau sudah menjadi pejabat tinggi negara di eksekutif, legislatif, dan yudikatif, pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dikenal sebagai sosok yang sederhana. Ternyata, kesederhanaan itu diteladani dari sosok Presiden Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid.
“Kalau di pemerintahan untung saya itu langsung masuk ke kabinetnya Gus Dur karena Gus Dur ini sama sekali tidak ada itu urusan duit, memanfaatkan apa, dia memberi contoh sangat sederhana,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Perspektif One on One di YouTube Terus Terang Media, Minggu (25/01/2026).
Teladan itu langsung didapatkan Mahfud ketika pertama kali datang ke Istana usai dipanggil Gus Dur. Ketika itu, Mahfud yang diminta menunggu di ruang tunggu tamu Presiden disuguhi makanan-makanan seperti tempe, jagung, kacang, dan sebagainya.
“Di ruang Presiden loh, kayak gini Gus Dur ya, gitu, makan aja Gus Dur gitu enak ya orang hidup kayak gini, enteng sekali, dia enggak peduli itu kemewahan apa, dan bagi saya terbawa, inilah kepemimpinan yang amanah nih ya kayak gini,” ujar Mahfud yang jadi Menteri Pertahanan (Menhan) di Kabinet Presiden Gus Dur.
Ia berpendapat, kepemimpinan yang amanah yang paling penting tugas-tugas pokok dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Sedangkan, kehidupan sehari-hari seperti makanan, minuman, atau pakaian tidak perlu kemewahan, yang terpenting halal.
Sebagai orang yang mempelajari sastra, Mahfud mengungkapkan, begitu banyak nasihat-nasihat yang bisa dijadikan teladan kehidupan. Salah satunya adagium tentang apa yang paling penting dalam hidup bagi mereka yang pintar dan mereka yang bodoh.
“Misalnya ya, ada sastra gini, saya rela, saya lebih suka punya ilmu yang banyak agar saya banyak ilmu, bagi saya itu yang penting adalah ilmu, sedangkan bagi orang yang bodoh itu harta. Disuruh hafalkan itu di Sastra Arab, ingat bahwa harta itu bisa habis dalam waktu sekejap, ilmu itu kekal malah semakin dibagi semakin bertambah, kalau harta semakin diberikan semakin habis,” kata Mahfud.
Mahfud merasa, ilmu-ilmu kesastraan yang dipelajarinya itu membuat banyak orang kerap mempertanyakan kemampuan menyampaikan dalil-dalil. Sebab, ia mengungkapkan, dalam usul fiqh saja setidaknya ada 80 kaidah yang harus dihafal dan dipahami.
Belum lagi syair-syari yang harus pula dihafalkan dan dipahami. Menurut Mahfud, kebiasaan mempelajari sastra-sastra lama membuatnya mengetahui latar belakang dari begitu banyak ilmu, termasuk ilmu hukum, ilmu politik, dan ilmu-ilmu modern kini.
“Bagi saya tidak ada sesuatu yang sulit, tapi dianggap kok bisa ya, kok selalu ada dalilnya, ilmu politik ada dalilnya, ilmu hukum ada dalilnya, di kampus ada dalilnya, di DPR ada dalilnya, ya bisa aja saya bilang, saya kan belajar,” ujar Mahfud. (WS05)
