Harga emas terus naik. Per 23 Januari 2026, harga emas Antam sudah hampir menembus Rp 2,9 juta per gram. Plh Deputi Bisnis Bulion Pegadaian, Darma Satria mengatakan, harga emas anomali pada 2-3 tahun terakhir karena terus alami kenaikan progresif.
Ia menerangkan, pada bulan ini saja sudah 2 kali menyentuh level all time high atau harga tertinggi. Darma menilai, salah satu yang mendorong tidak lain kebijakan dari negara super power yang menggiring opini kemungkinan ada ketidakpastian ekonomi.
“Itu membuat banyak negara-negara yang merasa di depan ini dalam kondisi yang tidak diketahui. Mereka coba mengamankan asetnya, investasinya menuju emas, akhirnya mendorong bank-bank dunia untuk membeli emas sebagai cadangan devisa dan itu terus mendorong harga emas naik,” kata Darma kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Pojok Keramat di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (22/01/2026).
Chief of Operating Officer Bareksa, Ni Putu Kurniasari menuturkan, emas memang memiliki siklus dan ketika terjadi krisis harga emas pasti naik. Tapi, ada pula alasan struktural yaitu masuknya Bank Dunia untuk menjadikan emas sebagai devisa.
Ia menyampaikan, jika sebelumnya Bank Dunia selalu menjadikan dolar sebagai alat cadangan devisa, tapi tampaknua sekarang sudah mulai ada krisis ketidakpercayaan antara negara dunia. Kondisi itu dimulai dari China yang merasa ditekan oleh AS.
“Dia tahu kalau gitu saya selama ini pegang surat berharga Amerika saya harus mulai diversifikasi cadangan devisanya masuk ke emas sekarang, mulai negara-negara lain mengikuti. Apalagi, terakhir sekarang Eropa masuk sejak sekarang kayaknya Bank Sentral Amerika mulai agak khawatir dipolitisasi jadi ada strukturalnya juga itu yang menyebabkan makanya signifikan sekali kenaikan di 2025,” ujar Sari.
Sebenarnya, ia mengingatkan, harga emas sempat mengalami penurunan 5 persen di akhir November 2025. Tapi, mengingat tensi ekonomi dunia meningkat, Bank Sentral lagi-lagi membeli emas dan itu yang menyebabkan harga emas kembali melambung.
Walau sudah tinggi, Sari mengaku belum bisa menjamin harga emas tidak akan naik lagi dalam waktu dekat karena tensi ekonomi dunia masih tinggi. Biasanya, ia menyampaikan, ketika krisis melandai akan terjadi koreksi terhadap harga emas.
“Kalau kita bicara jangka panjang siklus krisis akan selalu ada, jadi tetap saja akan ada masa-masa di mana dia stagnan, mungkin ada juga turun. Tapi, nanti dalam jangka panjang dia tetap akan mengalami kenaikan lagi karena memang sebetulnya emas itu satu aset yang tidak diinterfesensi oleh negara manapun dan orang semua satu dunia ini percaya bahwa ini alat yang kita bisa pegang untuk tukar,” kata Sari. (WS05)
