Ancaman Stabilitas di Depan Mata, Presiden Prabowo Harus Setop Wacana dan Retorika

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (04/01/2025). Foto: Wahyu Suryana
Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (04/01/2025). Foto: Wahyu Suryana

Tokoh Madura, Islah Bahrawi menilai, tahun ini merupakan sebuah masa pertaruhan bagi Indonesia. Itu dikarenakan antara lain kita tersandera beberapa kasus yang sedang bergulir seperti kasus pengadaan bahan bakar yang menyangkut Riza Chalid.

Ia meyakini, Riza Chalid yang masih dalam pelarian tidak akan tinggal diam walau sudah ditetapkan tersangka, anaknya sudah dipenjara, dan asetnya disita. Dia pasti akan memainkan jaringan terhadap logistik, penyediaan bahan bakar untuk Indonesia.

“Ini harus menjadi perhatian serius dari pemerintah. Jangan sampai hanya gara-gara Riza Chalid seorang, stok BBM kita menipis dan ini bisa menimbulkan gejolak secara nasional,” kata Islah kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Berani di kanal YouTube Terus Terang Media, Minggu (04/01/2025).

Islah turut menyoroti beberapa utang Indonesia yang jatuh tempo. Sebab, jika kita gagal bayar apalagi mengalami default, maka kemungkinan besar stabilitas nasional kita akan sulit dikendalikan karena kebutuhan masyarakat yang tidak lagi terpenuhi.

Bagi Islah, penting bagi kita menghindari berbagai konflik hanya karena persoalan perut yang tidak terpenuhi. Walaupun, di sisi lain, kita sama-sama tahu ada teori yang menyebut orang miskin perlu dirawat agar muncul kapitalisme yang lebih mapan.

“Hal seperti ini saya yakin akan ditangani oleh pemerintahan hari ini karena kita tahu, setidaknya saya, memahami bahwa Pak Prabowo antikapitalis karena Pak Prabowo itu seorang sosialis. Jadi, berbagai tantangan dunia dan tantangan bangsa ini ke depan di 2026 tidaklah sederhana. Ada beberapa kerentanan dalam politik, kerentanan ekonomi, kerentanan sosial, termasuk perubahan cuaca di sekitar kita,” ujar Islah.

Islah berpendapat, bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat merupakan teguran betapa cerobohnya bangsa ini mengelola sumber daya alam. Betapa cerobohnya rezim ke rezim soal kewaspadaan terhadap krisis ekologi yang terjadi.

Ia menilai, tahun ini tantangannya begitu menganga, bahkan terjadi perang Thailand-Kamboja yang sama-sama di ASEAN. Menurut Islah, Presiden Prabowo tidak boleh lagi terlalu asik di singgasana emas, harus pula memilih anak buah yang bisa kerja.

“Anak buahnya yang bisa bekerja atau tidak atau yang hanya asal bapak senang, asal bapak tenang. Pak Prabowo tidak boleh hanya gahar di panggung, di podium, wujudkan dalam aksi nyata. Ke depan ini Bapak dititipkan 280 juta nyawa manusia, arah bangsa ini ada di tangan Pak Prabowo. Oleh karena itu, tidak boleh lagi Pak Prabowo hanya bermain dalam wacana dan retorika, semua harus diwujudkan dalam tindakan nyata,” kata Islah.

Ia mengingatkan, jika Presiden Prabowo berjuang untuk rakyat sepenuhnya, rakyat akan berada di depannya bahkan melindunginya serta menghadapi semua tantangan. Walaupun terlalu ideal, Islah meyakini, tantangan-tantangan itu sangat nyata.

Bahkan, Islah menambahkan, semua akademisi-akademisi Indonesia di dunia turut menyampaikan itu, memiliki kecemasan yang sama. Sebab, ia menegaskan, gejolak-gejolak di Afrika, Asia, Amerika, semua memberi gambaran tantangan yang sama.

“Bahwa persoalan-persoalan dunia ke depan bukanlah persoalan yang hanya bisa disimplifikasi dengan orasi-orasi dan kebijakan-kebijakan yang mandul. Mari kita semua berjuang untuk Indonesia dan untuk seluruh masyarakat supaya bangsa kita tidak menjadi sampah peradaban dunia,” ujar Islah. (WS05)