Dunia pondok pesantren, khususnya santri, terus mengalami perkembangan yang pesat. Profesor Hukum di Melbourne Law School Australia, Nadirsyah Hosen atau yang lebih banyak dikenal dengan Gus Nadir, menjadi salah satu dari begitu banyak contohnya.
“Sekarang banyak, yang hebat atau bahkan lebih hebat dari saya, berprestasi juga banyak sekarang. Di Jerman ada beberapa profesor dari NU, orang Indonesia mengajar di Jerman, di Korea, di Jepang, di Amerika, di Kanada, ini menyebar ke mana-mana dalam berbagai bidang,” kata Nadir kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (03/01/2025).
Itu sudah pula Nadir lihat ketika masih menjadi Pengurus Cabang Istimewa NU karena bertemu dengan mereka yang banyak dan hebat-hebat. Bahkan, Nadir sempat mengusulkan ke PBNU agar bisa memberdayakan mereka untuk memotivasi santri-santri di pondok.
“Saya sempat mengusulkan kepada PBNU dulu, saya bilang ini teman-teman yang hebat-hebat di luar negeri, profesor, kita buat giliran datang ke pesantren, menyemangati para santri di pesantren, tapi ya kan PBNU-nya menghiraukan pendapat saya, sudah,” ujar Nadir.
Nadir sendiri setiap diundang ke daerah-daerah selalu menyempatkan diri ke pondok. Misalnya, ketika diundang ke UGM dia mampir di Ponpes Krapyak, atau saat diundang ke Unair dia mampir ke Jombang atau ke Kediri, menyapa santri-santri di pondok.
Hal itu dilakukan Nadir demi memberikan inspirasi kepada santri-santri bahwa sukses tidak hanya menjadi politisi. Nadir mengungkapkan, ternyata santri-santri begitu antusias dan bisa dilihat dari pertanyaan-pertanyaan yang mereka sampaikan.
“Misalnya, apakah kami gampang mencari makanan halal? Apakah ada masjid di sana? Saya di Australia itu saya sebulan sekali kita mengadakan majelis khataman Quran, terus saya mengisi, mengajar tafsirnya, itu sejak 2005 lakukan itu. Ternyata kita bisa jadi Muslim yang baik, tapi tinggal di negeri barat karena kita punya ilmunya, mencari makanan yang halal, mendapat tempatan sembelihan, itu kita bisa jelaskan,” kata Nadir.
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD menyebut, sebenarnya di Indonesia sudah banyak santri yang bertransformasi seperti itu. Misal, Burhanuddin Muhtadi, Saiful Mujani, Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, Fahri Ali, Nurcholis Madjid, dan lain-lain.
“Bisa ternyata, yang dulu dianggap manusia kelas 2 lah, kaum sarungan lah, sekarang malah banyak orang jadi kaum sarungan, maksakan diri, apalagi pemilu,” ujar Mahfud.
Mahfud mengingatkan, dulu santri secara sosial memang dianggap manusia kelas 2, tidak dipandang menjadi orang hebat yang bisa mengurus negara. Pokoknya, santri hanya di madrasah, sekolahnya di IAIN (UIN), lalu bekerja dalam koridor agama.
“Tapi, memang berkah yang kita miliki dalam beberapa puluh tahun terakhir, anak-anak Muslim itu meningkat, terutama kalau saya melihatnya, dulu itu Pak Wahid Hasyim pada 1951 mengeluarkan SKB bersama Bahder Johan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bersama Menteri Agama mengeluarkan SKB bahwa ijazah sekolah, madrasah, itu setara sekolah umum, yang santri bisa masuk ke umum, yang umum bisa ke santri,” kata Mahfud.
Mahfud melihat, percampuran seperti itu menghilangkan dikotomi yang dulu tajam, terutama di era 70an. Ia menyampaikan, di era 80an sudah banyak santri-santri yang menjadi doktor, sedangkan di era 90an banyak santri-santri yang menjadi profesor.
Menurut Mahfud, di situ tampak sekali mobilitas sosial vertikal umat Islam bukan seperti air yang dikucurkan dari atas, tapi seperti pancuran yang muncul dari tanah. Sehingga, ada di mana-mana, di berbagai lembaga banyak santri-santri.
“Ini bagian dari pertumbuhan sosial masyarakat Islam di Indonesia, pertumbuhan kaum santri, perkembangan kaum santri, dan ke depan menurut saya akan semakin deras. Sehingga, kita di Indonesia ini, Islam itu dengan Indonesia satu, dan dasarnya adalah kosmopolit. Jadi, tidak ada lagi pertentangan antar kelompok,” ujar Mahfud. (WS05)
