Perempuan di Panggung Utama Pemerintahan Jadi Tren Baru yang Terjadi Secara Global

Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (01/01/2025). Foto: Wahyu Suryana
Intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (01/01/2025). Foto: Wahyu Suryana

Intelektual, Hamid Basyaib, menyoroti perkembangan yang sangat menarik tentang kemunculan perempuan-perempuan hebat di panggung utama global. Salah satunya dengan Sanae Takaichi yang terpilih menjadi Perdana Menteri pertama wanita di Jepang.

“Ini perkembangan menarik, penting, karena negara itu dikenal sebagai negara lelaki sebetulnya. Jadi, sudah lama kita tahu bahwa perempuan Jepang sulit sekali mendapat tempat di banyak level di banyak sektor. Di tengah masyarakat, pendeknya, perempuan ideal Jepang itu adalah perempuan yang melayani suami di rumah,” kata Hamid kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program Perspektif di kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (01/01/2026).

Ia melihat, kesan bahwa perempuan itu harus jadi ibu rumah tangga biasa secara umum masih kuat di masyarakat Jepang. Kini, tiba-tiba di abad 21 ini ada Sanae Takaichi yang jadi Perdana Menteri Jepang, menandakan dominasi perempuan di panggung global.

Sebelumnya, di Amerika Serikat (AS) ada Hillary Clinton yang jadi calon presiden, lalu ada Kamala Harris yang menjadi Wakil Presiden. Di Itali ada Perdana Menteri Giorgia Meloni, pun di New Zelanad, di Finlandia, dan negara-negara Skandinavia.

“Ini perkembangan yang patut kita syukuri, rupanya kemanusiaan di banyak tempat makin meningkat, sehingga makin melihat perempuan sebagai human, sebagai manusia yang setara, yang sama, dan memang kenyataannya demikian karena mitos kelemahan perempuan dan sebagainya itu dibikin oleh kaum lelaki sebetulnya. Jadi, dipotret begitu rupa sebagai manusia yang lemah, penuh kekurangan macam-macam,” ujar Hamid.

Namun, pelan-pelan di level global mulai muncul kesadaran baru yang segar, semakin melihat perempuan sebagai setara dengan laki-laki. Hamid merasa, sebenarnya sikap memojokkan atau menomorduakan perempuan itu tindakan bodoh dan kontraproduktif.

Sebab, itu berarti kita menyingkirkan separuh penduduk dunia karena mungkin lebih banyak jumlah perempuan di negara-negara dunia. Karenanya, kalau perempuan malah dipojokkan atau diberi peran minimal, justru negaranya itu yang akan rugi besar.

Perempuan, lanjut Hamid, potensi penuh kemanusiaannya diredam, ditekan, sehingga tidak muncul aktualisasinya sebagai manusia-manusia yang biasa saja, tidak harus istimewa. Jadi, pemojokkan perempuan hanya menjadi tindakan yang kontraproduktif.

“Tindakan bodoh yang kontraproduktif kita mau menyingkirkan separoh dari penduduk kita sendiri, dan artinya berikut segala potensi dan kebaikan yang mungkin mereka hasilkan dan jadi tertunda atau peluang itu hilang,” kata Hamid. (WS05)