Tewasnya Pemuda Yatim di Masjid Agung Sibolga, Ketika Moral ke Luar dari Hati Nurani

Masjid Agung Sibolga, Kota Sibolga, Sumatera Utara. Foto: Istimewa
Masjid Agung Sibolga, Kota Sibolga, Sumatera Utara. Foto: Istimewa

Penodaan rumah ibadah lagi-lagi terjadi di Baitullah, Rumah Allah, ketika seorang pemuda berumur 21 tahun, seorang yatim, Arjuna Tamaraya, tewas di Masjid Agung Sibolga, Sumatera Utara. Tokoh Madura, Islah Bahrawi menilai, ini pelanggaran atas kesucian dan keluhuran dari ajaran agama, khususnya dari ajaran Islam.

“Arjuna kelelahan, dia menginap dan tidur di Masjid Agung Sibolga, tiba-tiba ada 5 orang melakukan pengroyokan, ditendang, diinjak, diseret hingga ke parkiran, dan bahkan kepalanya sempat membentur anak tangga masjid. Ini adalah brutalitas atas nama pembelaan terhadap agama,” kata Islah kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program BERANI di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (26/11/2025).

Ia menuturkan, sejak dulu dirinya banyak yang mempertanyakan berbagai tindakan-tindakan pemeluk agama yang melakukan brutalitas atas nama kesucian agama. Padahal, Rasulullah SAW sendiri pernah memberikan peminjaman terhadap beberapa orang Kristen dari Najran, Arab Saudi, untuk melakukan kebaktian di masjid milik Rasulullah.

Rasulullah, lanjut Islah, mempersilakan mereka untuk melakukan kebaktian dengan arah qiblat sesuai dengan keyakinannya mereka. Meskipun riwayat ini lemah, tapi setidaknya kisah ini bergulir dari masa ke masa, dan kemudian diakui oleh banyak orang bahwa sebegitu tolerannya Rasulullah SAW terhadap orang-orang yang berbeda.

Sementara, ia melihat, yang terjadi di Masjid Agung Sibolga ini menimpa seorang Muslim juga. Karenanya, Islah mempertanyakan dari sisi moral orang-orang yang mengaku beragama itu. Islah menyadari, moral memang tidak ditentukan oleh agama, moral tidak ditentukan oleh pelukan agama apapun, dia adalah bawaan hati nurani.

“Orang bisa beragama, orang bisa kuat beribadahnya, orang bisa melakukan apa saja, bisa hafal Al Qur’an, bisa melakukan sholat sunat, dia bisa melakukan ritual-ritual apapun dalam suatu agama. Tapi, ketika moral sudah ke luar dari hati nuraninya, dia bisa membunuh siapa saja. Ini yang kemudian kita pertanyakan dari aksi para pengeroyok itu yang terjadi di Masjid Agung Sibolga ini,” ujar Islah.

Beragama, Islah menekankan, soal kemanusiaan, bukan hanya soal ketuhanan. Artinya, ketika kita mencintai Tuhan, kita harus menyayangi sesama umat manusia yang mana jelas merupakan ajaran dari semua agama. Terutama, dalam ajaran Islam yang tegas menyerukan kalau kemanusiaan itu jauh lebih penting sebelum kita mengenal agama.

Ia menekankan, agama memang begitu ditentukan dari di mana kita dilahirkan, dari agama apa orang tua kita melahirnya anaknya. Kalau seorang anak lahir dari orang tua beragama Islam, maka dia beragama Islam. Kalau dia lahir dari orang tua beragam Kristen, maka dia beragam Kristen, terlepas setelah dewasa ada kesadaran kognitif.

“Kita berbicara tentang takdir kelahiran manusia, di mana takdir-takdir kelahiran itu hanya Tuhan yang berhendak, hanya Allah yang menentukan, lahirlah agama-agama yang kita peluk hari ini. Oleh karena itu, kejadian di Masjid Agung Sibolga ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa rumah ibadah itu harus inklusif,” kata Islah. (WS05)

Temukan kami di Google News.