Islah Bahrawi: Kalau Masjid Digambarkan Seperti di Masjid Agung Sibolga, Siapa yang Tertarik ke Islam?

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program BERANI di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (26/11/2025). Foto: Wahyu Suryana
Tokoh Madura, Islah Bahrawi, dalam program BERANI di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (26/11/2025). Foto: Wahyu Suryana

Tokoh Madura, Islah Bahrawi, menyoroti peristiwa mengenaskan yang terjadi di Masjid Agung Sibolga, Kota Sibolga, Sumatera Utara. Ketika seorang pemuda yatim berusia 21 tahun tewas usai dipukuli dan diseret lima orang hanya karena menumpang istirahat.

Padahal, Islah menilai, kalau ada kecurigaan-kecurigaan tentu semua bisa diajak bicara. Ia menuturkan, belum tentu pula orang-orang yang menganiaya itu memiliki ahlak sebaik korban, Arjuna Tamaraya, yang memilih masjid untuk melepas penatnya.

“Arjuna ,justru datang ke tempat yang konon sangat suci dan dilindungi oleh Tuhan. Tapi, ternyata manusia-manusia begundal itu tidak paham bahwa agama tidak boleh masuk kerana brutalitas, ditambah dengan kecurigaan dan kebencian kepada siapapun,” kata Islah kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam program BERANI di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (26/11/2025).

Islah mengingatkan, di Timur Tengah dan negara-negara lain di luar waktu shalat memang masjid itu dikuncing. Tapi, ia menekankan, bukan berarti itu mengurangi nilai-nilai inklusifitas masjid karena orang bisa mengenal Islam dari masjidnya.

Pun orang bisa mengenal Kristen dari gerejanya, orang bisa mengenal agama lain dari tempat ibadahnya. Karenanya, Islah menyampaikan, tempat ibadah bagi agama merupakah wajah yang harus ditampilkan sebaik mungkin, searif mungkin, seterbuka mungkin.

“Sehingga apa? Pemeluk agama dan ajaran agama itu tercermin dari rumah ibadahnya. Kalau kemudian masjid digambarkan seperti yang terjadi di masjid Agung Sibolga ini, lalu siapa yang mau tertarik terhadap agama Islam, kalau orang yang hanya ingin melepaskan penatnya ke dalam masjid saja harus teraniaya,” ujar Islah.

Bagi Islah, kita harus belajar dari kejadian ini untuk meluruskan penerjemahan kita terhadap agama, bahwa kebencian dan brutalitas bukanlah ajaran agama. Dalam Islah, ia menekankan, Rasulullah SAW merupakan sosok yang sangat inklusif dan toleran.

“Rasulullah SAW diriwayatkan juga pernah meminjamkan halaman masjid kepada orang Yahudi yang ingin menikahkan anaknya. Meskipun riwayat ini juga lemah, tapi setidaknya itu menjadi gambaran betapa terbukanya rumah ibadah itu,” kata Islah.

Menurut Islah, tragedi seperti ini tidak boleh terjadi lagi karena kita merupakan bangsa yang beradab, kita memeluk agama-agama yang beradab. Apalagi, semua agama mengajarkan kearifan dan keluhuran, semua agama mengajarkan empati kemanusiaan.

“Lagi-lagi kejadian seperti ini membuat kita sakit, rumah ibadah yang seharusnya menyejukkan kita semua, melindungi kita semua, ternyata menjadi ajang brutalitas. Mudah-mudahan Allah merahmati kita semua, dan kita tetap menjadi orang-orang yang berahlak, dan bisa menyebarkan rahmat bagi seluruh alam semesta,” ujar Islah. (WS05)

Temukan kami di Google News.