Polisi Bersama Masyarakat Harus Jadi Doktrin Kepemimpinan dan Arah Transformasi Polri

Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas mengingatkan, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto memegang dan menjalankan tagline Polisi Bersama Masyarakat yang diusungnya.

“Ini harus jadi doktrin kepemimpinan dan arah transformasi Polri,” kata Fernando, Senin (5/10/2026).

Bacaan Lainnya

Menurut Fernando, gagasan tersebut relevan dengan kebutuhan masyarakat. Sebab, bagi rakyat, keberadaan polisi bukan sekadar penegakan hukum, tetapi juga menghadirkan rasa aman, pertolongan dan kepastian ketika menghadapi persoalan.

“Keinginan rakyat sederhana. Ketika rumahnya kemalingan, ada polisi yang datang. Ketika keluarganya menjadi korban kejahatan, ada polisi yang melindungi. Ketika membuat laporan, mereka ingin didengar. Ketika berada dalam kondisi darurat, mereka ingin pertolongan datang dengan cepat. Itulah polisi yang dekat dengan rakyat,” ungkap Fernando.

Fernando menilai doktrin Polisi Bersama Masyarakat penting karena menempatkan masyarakat sebagai pusat orientasi tugas kepolisian.

Diketahui, gagasan tersebut disampaikan Suyudi dalam uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR RI pada 1 Oktober 2026.

Ditegaskan Fernando, ukuran keberhasilan Polri tak hanya dilihat dari program, operasi atau kegiatan kelembagaan, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan langsung masyarakat.

Ibu yang kehilangan anaknya tentu tidak membutuhkan pidato panjang. Dia membutuhkan polisi yang segera mencari dan melindungi anaknya. Pedagang kecil yang menjadi korban kejahatan membutuhkan kepastian bahwa laporannya ditangani.

Fernando juga menilai kedekatan polisi dengan masyarakat penting untuk mencegah gangguan keamanan. Polisi yang dekat dengan warga dinilai lebih mudah mengetahui persoalan sosial dan potensi gangguan keamanan sejak dini.

“Polisi jangan hanya hadir setelah kejadian. Masyarakat harus merasa memiliki tempat untuk mengadu,” ungkapnya.

Karena itu, dia berharap semangat Polisi Bersama Masyarakat diterjemahkan hingga tingkat kewilayahan, terutama Polsek dan Polres yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Fernando juga mendorong kepolisian membuka ruang komunikasi yang sehat agar masyarakat tidak ragu menyampaikan laporan, keluhan maupun kritik.

“Polisi harus bisa ditemui, bisa diajak bicara dan mau mendengar. Kritik masyarakat jangan selalu dianggap sebagai serangan. Kritik yang disampaikan berdasarkan fakta justru bisa menjadi alarm bagi institusi untuk memperbaiki diri,” imbau Fernando.

Menurut Fernando, kepercayaan masyarakat terhadap Polri dibangun melalui pengalaman mereka ketika berhadapan langsung dengan polisi. Karena itu, dia menilai pernyataan Suyudi bahwa Polri harus kuat karena dipercaya, bukan karena ditakuti, penting untuk diterjemahkan menjadi budaya kerja.

“Polisi yang ideal adalah ketika anak kecil melihat polisi, dia merasa aman. Ketika orang tua melihat polisi, mereka merasa ada negara yang melindungi. Ketika korban datang ke kantor polisi, mereka merasa datang ke tempat untuk mendapatkan pertolongan,” tegasnya.

Fernando berharap kepemimpinan baru Polri dapat mewujudkan pendekatan yang tegas terhadap kejahatan, tetapi tetap humanis terhadap korban dan masyarakat.

Polisi yang tegas kepada kejahatan, tetapi humanis kepada rakyat. Cepat ketika rakyat membutuhkan pertolongan. Profesional ketika menangani perkara. Terbuka terhadap kritik. Dan yang paling penting, hadir ketika masyarakat membutuhkan negara.

Dia menekankan, apresiasi terhadap doktrin baru tersebut juga harus diikuti pengawalan publik agar tidak berhenti sebagai slogan.

“Rakyat hanya ingin hidup aman, bekerja tenang, keluarga terlindungi dan ketika membutuhkan pertolongan, polisi hadir. Kalau itu bisa diwujudkan, maka masyarakat akan merasakan bahwa negara benar-benar hadir bersama mereka,” tandasnya. RLS

 

Temukan kami di Google News.