Ahli Gizi: Makanan Harus Tertutup Rapat untuk Cegah Kontaminasi

(ilustrasi) Salah satu contoh makanan yang mengandung karbohidrat tinggi. Foto: Junaidi Ibnurrahman
(ilustrasi) Salah satu contoh makanan yang mengandung karbohidrat tinggi. Foto: Junaidi Ibnurrahman

Guru Besar Pangan dan Gizi ITB, Prof Ali Khomsan mengatakan, makanan yang tidak dikonsumsi dalam waktu dekat harus ditutup rapat di wadah yang kedap udara. Hal itu penting dilakukan untuk menghindari kontaminasi penyebab keracunan makanan.

“Ketika kita akan membawa makanan itu ke luar untuk disantap siang hari dan sebagainya, itu yang harus diperhatikan adalah tutupnya harus rapat, tidak mudah terkontaminasi oleh cemaran-cemaran yang dari luar,” kata Ali, Rabu (24/09/2025).

Ia menerangkan, makanan yang baru dimasak bisa disimpan dalam wadah yang memiliki tutup rapat. Namun disarankan untuk menunggu sedikit dingin terlebih dulu sebelum ditutup rapat agar uap panas tidak terperangkap dalam wadah dan terkena makanan.

Sebab, lanjut Ali, bila terkena bisa memengaruhi kualitas makanan. Selain itu, penyebab keracunan makanan bisa disebabkan karena pengolahan bahan makanan yang dimasak belum matang, sehingga masih banyak bakteri di dalamnya yang belum mati.

“Pengolahan makanan yang tidak optimal, kurang matang, sehingga masih banyak bakteri yang ada di dalam makanan dari makanan mentah sebelumnya. Misalnya, dalam memasak daging kurang matang baik, daging ayam atau daging sapi, itu semuanya bisa menjadi penyebab terjadinya keracunan makanannya,” ujar Ali.

Saat masak air, pastikan sumber air tidak terkontaminasi bakteri yang bisa sebabkan keracunan. Ali menyarankan, jika mendapati anak keracunan segera kirim ke klinik kesehatan atau puskesmas untuk mendapatkan penanganan kesehatan yang optimal.

Langkah itu bisa hindari dampak yang lebih fatal. Kemudian, bila gejala keracunan cukup fatal seperti muntah atau diare terus-menerus, maka pasien harus dirawat oleh dokter agar bisa diberikan infus dan obat sehingga kondisinya akan semakin baik.

Ali turut menyebut penggunaan air kelapa sebagai salah satu terapi yang bisa dilakukan, namun bukan berarti sebagai penanganan utama saat keracunan. Air kelapa bisa menggantikan elektrolit yang ke luar ketika seseorang diare atau muntah.

“Sebagian mungkin bisa menetralisir keracunan yang terjadi, namun sifatnya hanya sementara dan tetap perlu penanganan tenaga kesehatan,” kata Ali.

Ali menambahkan, untuk menghindari keracunan sangat penting untuk senantiasa menjaga kebersihan diri dan bahan makanan yang akan dikonsumsi. Pertimbangkan pengolahan makanan yang baik dari sumber bahan makanan yang baik juga. (Antara/WS05)