Teguh Pegang Standar Etik, Ini Cerita Lengkap Mahfud MD Ditawari Menkopolkam oleh Jenderal Senior

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Senin (22/092025). Foto: Wahyu Suryana
Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Senin (22/092025). Foto: Wahyu Suryana

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, mengaku kaget melihat podcast Bocor Alus Tempo (13/09/2025) yang mengungkap pertemuannya dengan seorang jenderal senior. Tepatnya, saat posisi Menkopolkam kosong usai Presiden Prabowo melakukan reshuffle kabinet.

“Karena ini benar, saya dihubungi, tapi saya berkomitmen untuk tidak membicarakan itu dengan siapa-siapa, kok bisa tahu nih Bocor Alus, ini alus betul maksudnya, yang tahu kan hanya saya bersama pihak-pihak yang menghubungi, jenderal yang menghubungi saya itu,” kata Mahfud kepada terusterang.id dan ditayangkan dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Senin (22/09/2025).

Ia menerangkan, pada 7 September 2025 jelang pengumuman reshuffle, dirinya saat berada di Yogyakarta dihubungi Sang Jenderal yang meminta bertemu. Namun, Mahfud yang masih ada jadwal kuliah baru bisa pulang ke Jakarta pada 9 September 2025.

“Dia bilang begini, Pak Mahfud, ini Menkopolkam perlu orang yang bisa menjembatani TNI dan Polri, dan diskusi-diskusi kami kecenderungannya ke Pak Mahfud, terus saya tidak jawab. Kenapa? Karena saya dulu kan sudah menyatakan komitmen yang menang yang berkeringat secara politik, saya kan tidak, itu standar etik,” ujar Mahfud.

Itu, bahkan, sudah disampaikan Mahfud pada 22 April 2024 ketika MK memutus hasil Pilpres. Bagi Mahfud, secara etika yang berkeringat untuk Prabowo pasti banyak. Sedangkan, dirinya berkeringat untuk diri sendiri, sehingga tidak etis untuk masuk.

Kecuali, lanjut Mahfud, jika memang ada kondisi tidak ada sama sekali dari orang-orang yang berkeringat untuk Prabowo. Karenanya, Mahfud memberi jawaban mengambang dan mengajak untuk menanti sampai satu tahun Presiden Prabowo pada Oktober nanti.

“Kalau menolak sombong banget nih orang, tapi kalau mau tak tahu diri juga nih orang, kan gitu, terus habis itu saya pulang ke Jogja lagi. Saya sekarang kan banyak di Jogja. Terus perdebatan di media banyak, ada gambar saya, calon kuat macam-macam gitu ya, banyak wartawan tanya, teman-teman telfon, saya tidak jawab,” kata Mahfud.

Di podcast Leon Hartono dan Denny Sumargo, Mahfud turut memberi jawaban serupa ketika ditanyakan soal itu. Mahfud menyatakan, dirinya hanya akan menjawab kepada orang yang memang menawarkan, sehingga jika menolak orang itu memahami alasannya.

“Demikian akhirnya saya tidak memberi jawaban apa-apa, betul itu Bocor Alus bahwa pada waktu itu tidak ada keputusan karena saya sendiri tidak menyatakan iya atau tidak, saya tetap berpegang pada standar etik yang dulu saya katakan kalau masih ada yang bagus di sana kenapa kok ambil di luar, saya kan orang luar,” ujar Mahfud.

Soal publik merasa Mahfud seharusnya masuk dan mewarnai pemerintahan, ia merasa, tidak ada jaminan dia bisa memperbaiki masalah yang ada. Tapi, Mahfud menilai, dia tetap bisa mengabdi kepada bangsa dan negara di dalam maupun di luar pemerintah.

Mahfud mengingatkan, selama ini dia tidak berhenti bicara dan sedikit banyak sudah jadi rujukan. Karenanya, walau sempat terpikir untuk memberi warna di pemerintahan, dia memilih tidak menjawab karena kontribusi itu bisa dilakukan dari mana saja.

Selain itu, ia berpendapat, dia lebih baik berdiskusi langsung dengan orang yang ingin mengangkatnya. Baik tentang apa saja tugas-tugas yang mengharuskannya ada di posisi itu maupun memberi pemahaman tentang apa saja kemampuan yang dimilikinya.

“Kan mau saya begitu, kalau saya tidak bisa melakukan itu ya saya tidak usah, kan begitu maunya, selesai ya, saya tidak menjawab sampai akhirnya ada pelantikan. Itu saja, kalau ceritanya, saya ditawari itu benar, benar adanya,” kata Mahfud. (WS05)