Pakar hukum tata negara, Mahfud MD, buka suara soal namanya yang mencuat beberapa waktu terakhir saat Presiden Prabowo melakukan reshuffle kabinet. Setelah memberi jawaban mengambang ketika ditawari posisi Menkopolkam oleh seorang jenderal sangat senior, giliran Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, yang meminta waktu untuk bertemu.
“Profesor ada di mana katanya, ada apa saya bilang, saya mau menghadap malam ini kata Teddy, terus, saya di Jogja, kapan kembali ke Jakarta, saya besok kuliah dulu dong di kampus, kalau mau ketemu besok jam 4 sore, apakah mau bicara ditelfon apa mau ketemu, saya mau ketemu,” kata Mahfud kepada terusterang.id yang ditayangkan di podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Senin (22/09/2025).
Usai ceramah dalam peresmian Rumah Peradaban Kahar Mudzakkir di Yogyakarta, Mahfud kembali ke Jakarta. Mahfud lalu menghubungi Teddy, menanyakan apakah ingin bertemu di kantornya, di kafe, atau di kantor Mahfud. Teddy menjawab, di kantor Mahfud.
Pada 16.30, Teddy akhirnya datang ke kantor Mahfud di Jalan Kramat. Pertemuan berlangsung hangat mengingat keduanya ternyata sudah lama kenal. Walau usia Teddy seperti anak kedua Mahfud, Mahfud lebih menganggap Teddy seperti adiknya saja.
“Sering berhubungan gitu sejak zaman saya Menkopolhukam dan Pak Prabowo Menhan, kalau mengantar apa-apa, pesan atau apapun dia datang ke saya, disuruh Bapak. Saya dulu panggil Mas, tapi sekarang panggil Pak karena Seskab, sini Pak, gitu, jangan panggil Pak katanya, saya kan murid Bapak katanya, saya belajar pada Bapak banyak,” ujar Mahfud.
Di pertemuan itu mereka banyak berdiskusi. Tapi, Mahfud menekankan, dari diskusi panjang itu dia menyampaikan konfirmasi dirinya menyetujui seluruh rencana Prabowo untuk reformasi Polri dan dia bisa ikut membantu dalam tim reformasi Polri saja.
“Saya berpikir begini, saya kan tidak boleh juga sok, kan saya harus berkontribusi juga kepada negara. Kan saya ini orang NU ahlusunah wal jamaah, itu dalilnya kalau kau tak bisa tak mampu kerjakan itu seluruhnya, jangan tinggalkan seluruhnya, ambil yang bisa, di sini saya bisa, jangan yang lain, di sini saya bisa,” kata Mahfud.
Mahfud menegaskan, dirinya bukan seorang nihilis yang menganggap semua pekerjaan pemerintah tidak ada baiknya. Namun, ia menekankan, dirinya juga bukan seorang fatalis yang membiarkan saja semuanya dan tidak merasa perlu melakukan apa-apa.
Bagi Mahfud, Indonesia sudah memberikan begitu banyak kepada dirinya, sehingga dirinya harus berbuat sesuatu untuk menjaga Indonesia. Dalam konteks itu, Mahfud menyatakan kesediaan membantu Presiden Prabowo dalam melakukan reformasi Polri.
Tim sendiri rencananya diumumkan pada Jumat (19/09/2025) kemarin, tapi batal karena Prabowo harus berangkat ke Sidang Umum PBB di New York, AS. Walau belum dipastikan posisinya, Mahfud membenarkan sudah menyatakan kesediaan membantu reformasi Polri.
“Tapi tidak bicara posisi ya, saya ingin membantu, membantu itu kan bisa juga kasih bahan karena sudah saya sudah pernah buat itu ketika Polhukam, ya nanti kita lihat pada posisi apa, tapi saya punya beberapa catatan penting kalau mau reformasi Polri sungguh-sungguh,” ujar Mahfud.
Mahfud turut memberi jawaban ringan soal kekhawatiran dicap negatif publik karena selama ini berada di luar tapi menerima tawaran masuk tim reformasi Polri. Mahfud merasa tidak masalah dan menganggap itu sekadar sebagai risiko atas pilihannya.
“Tidak apa-apa, risiko kayak begitu biasa saja, biasa saja, tim reformasi Polri itu kan ad hoc paling lama 2 bulan, kalau menurut saya sebulan sih selesai karena masalahnya sudah jelas tuh Polri,” kata Mahfud. (WS05)
