Kebrutalan Israel 2 Hari Terakhir Paksa Hampir 48.000 Warga Palestina Mengungsi ke Selatan

Seorang anak sedang lari menghindari serangan udara Israel ke rumah warga Palestina di Kota Gaza, Jumat (12/09/2025). Foto: Xinhua
Seorang anak sedang lari menghindari serangan udara Israel ke rumah warga Palestina di Kota Gaza, Jumat (12/09/2025). Foto: Xinhua

Serangan darat militer Israel di Kota Gaza terus berlanjut. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan, hampir 48.000 warga Palestina telah mengungsi ke selatan dalam dua hari terakhir.

OCHA melaporkan, sejak pertengahan Agustus-September, mitra-mitra mereka mencatat lebih dari 190.000 kali pergerakan semacam itu. Banyak dari mereka terpaksa berjalan kaki karena biaya transportasi mahal.

Banyak keluarga-keluarga pengungsi kerap dipimpin oleh perempuan dan warga lanjut usia, berjalan kaki hingga sembilan jam dalam cuaca panas ekstrem. Banyak yang tanpa alas kaki dan dengan anak-anak yang terluka.

“Banyak di antara mereka yang tiba tanpa tempat tinggal, dan permintaan dari kelompok paling rentan untuk tenda keluarga semakin meningkat,” tulis laporan OCHA, Rabu (17/09/2025).

OCHA menyebut, mitra-mitra yang memberi bantuan ke mereka sedang dalam perjalanan menyebut 1.500 orang, termasuk 900 lebih anak-anak, menerima bantuan darurat. Seperti bantuan psikososial, air, dan perawatan medis.

Selain itu, rumah sakit dan klinik masih mengalami tekanan yang sangat berat. Pekan ini, RS Al-Quds mengalami kerusakan akibat pengeboman di sekitarnya dan kini menjadi tempat penampungan bagi keluarga pengungsi.

Hanya tiga dari enam pos medis PBB di Gaza City yang dikelola oleh badan bantuan PBB yang masih beroperasi. OCHA menambahkan bahwa perlintasan perbatasan Zikim telah ditutup selama empat hari.

Misi pengiriman bahan bakar dan medis telah dibatalkan akibat kondisi terkini. Konvoi bantuan terus menghadapi penundaan dan berbagai risiko, membuat bantuan tidak sampai ke warga sipil yang paling membutuhkannya.

“Meski hadapi tantangan sangat besar dan pasokan yang semakin menipis, PBB dan mitra-mitra kemanusiaann terus memberi bantuan penyelamat nyawa serta layanan krusial di seluruh Jalur Gaza, di mana pun dan kapan pun itu memungkinkan,” tulis OCHA. (Antara/WS05)