Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDIP), Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, gas air mata memiliki sejumlah bahaya bagi kesehatan. Terutama, bila sampai terhirup masuk ke paru-paru.
“Secara umum gas air mata dapat menimbulkan dampak pada kulit, mata dan paru serta saluran pernapasan,” kata Tjandra, dikutip Sabtu (30/08/2025).
Tjandra menerangkan, gas air mata yang disemprotkan memang mengandung beberapa bahan kimia yang dikategorikan berbahaya bagi tubuh. Seperti chloroacetophenone (CN), chlorobenzylidenemalononitrile (CS), chloropicrin (PS), bromobenzylcyanide (CA) dan dibenzoxazepine (CR).
Kandungan kimia yang terhirup masuk ke paru berpotensi meningkatkan risiko gejala akut dalam paru dan saluran napas yang berupa dada berat, batuk, tenggorokan seperti tercekik, batuk, bising mengi, dan sesak napas. Dalam keadaan tertentu bahkan seseorang bisa mengalami gawat napas atau respiratory distress.
Terhadap orang-orang yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), gas air mata dapat menimbulkan serangan sesak napas akut yang bisa berujung gagal napas (respiratory failure). Dampak lain muncul rasa terbakar di bagian mata, mulut dan hidung.
“Orang yang terkena gas itu bisa pula mengalami pandangan kabur dan kesulitan menelan. Juga dapat terjadi semacam luka bakar kimiawi dan reaksi alergi,” ujar eks Direktur Penyakit Menular WHO ASEAN itu.
Ia mengingatkan, meski dampak utama gas air mata adalah dampak akut yang segera timbul, pada keadaan tertentu dapat terjadi dampak kronik berkepanjangan. Terutama, kalau paparan berkepanjangan, dalam dosis tinggi dan apalagi kalau di ruangan tertutup.
Tingkat risiko kesehatan dari gas air mata bergantung pada besarnya dosis gas yang mengenai tubuh, kepekaan terhadap zat kimia dalam gas yang mungkin dapat memunculkan gangguan kesehatan tertentu bagi yang terpapar. Serta, lokasi paparan gas terjadi, baik di ruang tertutup atau terbuka.
“Semakin besar paparannya tentu akan makin buruk akibatnya. Demikian juga dampaknya akan bergantung bagaimana aliran udara yang membawa gas beterbangan, apakah ada kebetulan ada angin kencang ketika ada gas air mata,” kata Tjandra. (Antara/WS05)
