Praktisi politik-ekonomi internasional, Dinna Prapto Raharja mengingatkan, Indonesia merupakan pasar besar bagi Amerika Serikat (AS). Karenanya, ia menyarankan, Presiden Prabowo Subianto seharusnya bisa memasang harga mahal hadapi ancaman-ancaman tarif yang dilancarkan Presiden AS, Donald Trump.
“Kalau kita melihat gayanya Amerika kan jelas kita harus pasang harga mahal dulu, kita harus tahu betul bahwa Amerika tidak mungkin hidup tanpa pasar Indonesia, itu saja dulu, harusnya percaya dirinya tuh itu,” kata Dinna dalam program Poker di kanal YouTube Terus Terang Media, Rabu (16/04/2025).
Caranya, lanjut Dinna, ingatkan eksistensi perusahaan-perusahaan besar AS yang ada di Indonesia seperti Coca Cola, Nestle, General Electric (GE), Procter & Gamble (P&G), dan lain-lain. Ia meyakini, perusahaan-perusahaan besar itu tidak akan mau diminta pindah dari Indonesia yang pasarnya memang begitu besar.
Maka itu, ia menekankan, dalam rangka melakukan langkah-langkah seperti itu Indonesia membutuhkan seorang duta besar di AS yang sayangnya sudah dua tahun kosong. Selain itu, tim ekonomi seperti Task Force yang mengurus persoalan AS dalam situasi-situasi krisis seperti seharusnya dibentuk secara matang.
Dinna yang memiliki pengalaman cukup lama di AS melihat, orang-orang AS cukup relasional, sehingga jika kita memliki relasi yang baik akan ada komunikasi dilakukan sebelum mereka mengambil langkah-langkah besar. Sayangnya, belakangan AS kerap mengambil langkah-langkah kejutan tanpa ada komunikasi ke kita.
“Kan kita lihat indikasinya sekarang mereka langsung tampar saja, tidak pakai tanya, tidak pakai ngobrol. Bahkan, tidak ada kabar Duta Besar Amerika yang ada di Indonesia ngobrol sama Menlu, kan tidak ada,” ujar Dinna.
Dinna curiga, kekosongan Dubes RI di AS karena ada pihak-pihak pada periode pemerintahan Presiden Joko Widodo memang tidak menginginkan posisi ini diisi. Terlebih, orientasi Presiden Jokowi waktu itu melihat dubes-dubes seperti marketing product saja. Lalu, langkah ini dilanjutkan Presiden Prabowo.
Selain itu, Dinna curiga, jangan-jangan pemerintah kita berpikir tidak banyak produk-produk Indonesia ke AS, sehingga tidak penting mengisi posisi Dubes RI. Dinna turut mengomentari tidak adanya usaha-usaha dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang mendorong Presiden Prabowo mengisi posisi Dubes RI di AS.
“Kenapa, karena dari waktu ke waktu biasanya itu posisi yang selain untuk fungsi bilateral, di sana ada Kantor Perwakilan Tetap di PBB, itu fungsi yang dua-duanya harusnya diisi, karena multilateral penting buat Indonesia dan markasnya ada di Amerika, kenapa tidak diisi, jadi internal di dalam Kemlu ada apa,” kata Dinna.
Co-Founder Sinergy Policies itu menyampaikan, perang dagang ini bisa begitu berpengaruh untuk rakyat di bawah. Karenanya, ia berharap, residen Prabowo, tidak lagi melihat korban dalam arti sekadar keuntungan perusahaan yang berkurang, tapi melihat orang-orang yang peluang kerjanya atau daya belinya mengecil.
“Saya kecewanya begini, pemerintah lagi-lagi melihat angka bukan manusia. Jadi, angka besar kecil itu elit sekali cara melihanya, bahwa buat kalangan yang punya uang mungkin kehilangan uang sedikit saja itu tidak ada rasanya karena job mungkin mereka pasti selalu ada, mereka yang pegang uang,” ujar Dinna.
Intelektual, Hamid Basyaib menambahkan, dari segi diplomasi kekosongan dua tahun Dubes RI di AS sudah menjadi masalah yang benar-benar luar biasa. Sebab, ia menekankan, kita tidak mengisi posisi duta besar bukan di negara-negara kecil seperti Burkina Faso, Zambia, atau Mali yang mungkin tidak berpengaruh.
“Tapi, kalau kamu tidak punya dubes di imperium Amerika, suatu negara yang jauh lebih besar dari kekaisaran Eomawi di masa jayanya, itu pasti ada sesuatu yang serius, tidak mungkin itu diabaikan, tapi faktanya dua tahun, dan saya tidak mengerti apa susahnya menaruh orang baru,” kata Hamid. (*)
