Pengamat politik, Ray Rangkuti, mengomentari langkah menteri-menteri atau wamen-wamen dari Presiden Prabowo yang menemui mantan presiden Joko Widodo. Terlebih, langkah itu dilakukan mereka saat Prabowo sedang kunjungan diplomatik ke luar negeri.
Ia merasa, itu dilakukan karena menteri-menteri mencium ada langkah dejokowisasi yang memang sedang dilaksanakan. Ray menekankan, turunan dari dejokowisasi itu tidak lain menteri-menteri yang selama ini dirasa dekat dengan Jokowi sebisa mungkin dirombak.
“Karena mereka baca, kemungkinan terjadi apa yang disebut dejokowisasi, posisi mereka bisa terancam, karena itulah saat Prabowo pergi ke luar negeri terjadi pertemuan menteri-menteri itu dengan Pak Jokowi, ibaratnya kalau dalam bahasa politiknya konsolidasi,” kata Ray dalam Sate Demokrasi di kanal YouTube Terus Terang Media, Senin (21/04/2025).
Apalagi, ia mengingatkan, pejabat-pejabat yang sebenarnya pembantu dari presiden yang sedang berkuasa, Prabowo, setelah pertemuan dengan santainya masih menyebut Jokowi dengan sebutan bos. Karenanya, Ray meyakini, pertemuan itu memang berisi konsolidasi.
Ray menyayangkan, sikap menteri-menteri yang sebenarnya sudah berlangsung lama ini masih didiamkan Prabowo sepanjang enam bulan terakhir. Akibatnya, ia melihat, publik luas seakan memang melihat ada dua matahari atau matahari kembar di tampuk kekuasaan.
“Itu yang dibiarkan oleh Pak Prabowo selama enam bulan ini, beliau membiarkan kelihatan ada dua matahari, pertama matahari dirinya yang terlihat administratif dan ada matahari yang di belakangnya kelihatan bersinar,” ujar pendiri Lingkar Madani (LIMA) tersebut.
Namun, ia menekankan, kondisi itu yang tampaknya mulai disadari oleh Prabowo beberapa waktu terakhir. Karenanya, belakangan Prabowo tampak ingin tampil sebagai matahari tunggal, yang salah satunya dilakukan dengan langkah mengurangi sinar matahari lain.
Terlebih, Ray mengingatkan, setiap terjadi dinamika politik pasti akan diiringi riuh di publik, dan itu pasti sudah dipahami Prabowo yang pernah menjadi menantu Presiden Soeharto. Ray berpendapat, kondisi itu yang belakangan mendorong Prabowo menemui Megawati.
“Karena mau tampil sebagai matahari tunggal tentu matahari yang selama ini kelihatan bersinar harus dikurangi sinarnya, sinarnya harus ke beliau, salah satunya dejokowisasi,” kata Ray.
Menurut Ray, wajar jika Presiden Prabowo mulai merasa harus tampil sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai presiden bayang-bayang dari Jokowi. Sebab, semakin hari semakin terlihat kalau Prabowo begitu terbebani dengan masalah-masalah politik dari Jokowi.
Selain itu, ia menambahkan, yang turut menjadi perdebatan secara konstitusi tentu saja kemungkinan jika Presiden Prabowo berhenti di tengah jalan. Hal itu jadi perhatian karena naiknya Gibran Rakabuming Raka tidak hanya akan menghilangkan kekuasaan Prabowo.
“Tapi, partainya mungkin akan jeblok, karena bukan lagi Gerindra yang berkuasa,” ujar Ray. (*)
