Perang dagang AS-Cina yang dimulai oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyentak dunia global. Namun, di tengah ancaman demi ancaman lewat penerapan tarif esktrim yang ditebar Trump ke negara-negara dunia, reaksi Presiden Cina, Xi Jinping, yang tampak proporsional justru menyita perhatian.
“Saya mau menggaris bawahi bagaimana reaksi Cina, dalam hal ini Presiden Xi Jinping yang menurut saya luar biasa tapi proporsional, tidak sombong tapi menunjukkan integritas dan keberanian yang wajar,” kata intelektual, Hamid Basyaib, dalam program Poker di YouTube Terus Terang Media, Rabu (16/04/2025).
Hamid menilai, selama perang dagang AS-Cina ini berlangsung dan menggemparkan dunia, Xi Jinping malah kerap memberikan pernyataan-pertanyaan yang bisa dibilang menginspirasi. Misal, menyampaikan kalau Cina merupakan sebuah peradaban berusia 5.000 tahun yang tidak mungkin bisa didikte siapapun.
Kemudian, Xi Jinping kerap menggunakan diksi-diksi yang cukup merendah seperti menyampaikan kalau kepala mereka sudah berada di lantai dan tidak mungkin bisa turun lebih bawah lagi. Selain itu, Hamid menuturkan, Xi Jinping sering menegaskan kalau mereka tidak pernah mengganggu negara-negara lain.
“Apa dia bilang, kira-kira begini, kami ini adalah peradaban 5.000 tahun, jadi ya tidak mungkin bisa didikte-dikte begitu, dan kami ini kepala kami sudah di lantai, tidak mungkin bisa di bawah lagi. Jadi kami tidak pernah mengganggu orang, dan benar dia, dia kan yang direcoki Taiwan saja karena memang punya dia,” ujar Hamid
Hamid mengingatkan, Cina sekalipun salah satu adikuasa memang bukan negara yang terbilang ekspansif. Sepanjang sejarah, ia menyampaikan, Cina tidak pernah kolonialistik, tidak pernah menjajah, walau sejak abad 14 armada-armada mereka sudah mendunia, termasuk sosok legendaris, Laksamana Cheng Ho.
Hamid menekankan, apa yang disampaikan Xi Jinping cukup subtantif seperti mengingatkan soal sistem World Trade Organization (WTO) yang sebenarnya sudah bagus, bahkan ikut dibuat oleh AS sendiri. Xi Jinping menekankan, selama ini Cina tetap menghormati desain WTO dan seharusnya tidak dirusak AS.
“Jadi kami, kira-kira tidak ada pilihan lain, kita lawan, tidak mungkin tidak. Hebatnya lagi dia ngomongnya dengan tenang, dengan berwibawa, tidak perlu teriak-teriak begitu, tidak perlu ada ndasmu segala, tidak usah, tapi substansinya kuat sekali,” kata jurnalis dan penulis senior tersebut.
Bahkan, sikap Xi Jinping tidak berubah saat dibombardir ancaman-ancaman tarif yang luar biasa tinggi dari AS. Alhasil, keteguhan Xi Jinping malah membuat Donald Trump, sosok yang sebelumnya dikenal begitu dominan, malah mengoreksi omongan-omongan yang disampaikannya, bahkan mengoreksi sikap AS.
Hamid berpendapat, pesan-pesan yang disampaikan Xi Jinping semacam itu bukan hanya menginspirasi bangsa Cina, tapi bangsa-bangsa lain walaupun tentu bangsa lain belum tentu seberani dia. Hal itu dirasa cukup wajar mengingat posisi negara-negara lain yang mungkin memang tidak sekuat Cina sekarang.
“Saya tidak bilang kita harus seperti dia, tidak juga, kita posisi kita berbeda, kita juga realistis, kita tidak sekuat dia, tapi setidaknya ada satu bentuk pride sebuah bangsa yang sedang ditonjolkan oleh seorang presiden, itu penting sebagai inspirasi,” ujar Hamid. (*)
