Pendeta Gomar dan Mahfud MD Cerita Makna Indah Ramadan

Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Pdt Gomar Gultom, bersama Mahfud MD dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (15/03/2025). Foto: Wahyu Suryana
Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Pdt Gomar Gultom, bersama Mahfud MD dalam program Ruang Sahabat di YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (15/03/2025). Foto: Wahyu Suryana

Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Pendeta Gomar Gultom, ternyata memiliki pandangan begitu indah tentang Ramadan, bulan yang sangat suci bagi umat Islam. Hal itu disampaikan Ketua Umum PGI periode 2014-2019 dan 2019-2024 itu saat menjadi tamu program Ruang Sahabat di kanal YouTube Mahfud MD.

“Saya memahami Ramadan ini sebagai bulan suci, bulan yang penuh rahmat, saya kira bukan hanya buat umat Muslim, tapi seluruh umat manusia,” kata Pendeta Gomar, Sabtu (15/03/2025).

Ia merasa, keseharian manusia hari ini sudah sangat banal, penuh dengan hura-hura, penuh dengan kerakusan, dan dibutuhkan waktu buat umat manusia berhenti untuk merenung sejenak. Bagi Gomar, dunia kita tidak hanya semakin tua, tapi memikul beban luar biasa karena ketamakan umat manusia.

Bahkan, Gomar melihat, hampir tidak ada hari tanpa seorang anak manusia itu melampiaskan hawa nafsu. Karenanya, ia berpendapat, puasa menjadi semacam pelatihan spiritual dalam rangka menguji diri, melatih diri, dan mengoreksi diri, tidak hanya bagi umat Islam tapi bagi umat Kristen, serta seluruh umat manusia.

Terlebih, lanjut Gomar, dalam tradisi Kristen ada pula puasa-puasa. Namun, mengingat Kekristenan itu sangat liberal, merdeka dan bebas, maka format puasa ditentukan masing-masing yang menjalankannya. Meski begitu, ia menekankan, makna dari puasa tidak jauh berbeda yaitu sebagai wadah pengendalian diri.

“Intinya, tetap harus ada pengendalian diri dalam menghadapi ragam masalah di dunia ini, kerakusan ini, termasuk carut marut penyelenggaraan negara kita, misalnya korupsi dan sebagainya, itu kan karena tidak ada pengendalian diri, tidak berani mengatakan cukup,” ujar Gomar.

Menurut Mahfud, apa yang disampaikan Pendeta Gomar sesuai yang tertulis dalam kitab suci Alquran. Tepatnya, di Surat Al Baqarah karena Allah SWT menyatakan puasa itu memang tidak hanya perintah yang diturunkan kepada kaum Muslimin, tapi sudah dijwaibkan kepada umat-umat terdahulu di muka bumi.

Tujuannya, Mahfud menekankan, tidak lain sama yaitu sebagai sarana melatih pengendalian diri karena orang bertakwa itu artinya orang-orang yang mampu mengendalikan diri. Sehingga, ia menyampaikan, bagi dalam ajaran Islam disebutkan tidak ada guna orang berpuasa kalau setelahnya tidak jadi lebih baik.

Mahfud turut membagikan pengalaman uniknya saat menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK). Saat itu, Mahfud memiliki teman seorang hakim konstitusi bernama Maria Farida yang merupakan pemeluk agama Katolik. Kala itu, Mahfud heran karena Maria cukup sering berpuasa pada Senin-Kamis, seperti umat Islam.

Setelah mendapat penjelasan dari Maria, dari sana Mahfud mengetahui kalau ternyata puasa ada dalam ajaran agama lain seperti Katolik, namun diberi kebebasan untuk memilih hari-hari. Mahfud menyadari, semua agama menganjurkan pemeluknya berpuasa karena memang ada kebaikan yang tersimpan.

“Saya waktu itu, oh iya ya, ajaran-ajaran puasa, kalau di agama-agama, taruhlah yang disebut agama Ardhi seperti di Hindu, Buddha, dan sebagainya itu kan ada puasa-puasa apa, kan sama, untuk pengendalian diri sebenarnya, puasa itu manfaatnya agar orang sadar, mereparasi dirinya,” kata Mahfud. (*)

Temukan kami di Google News.