Akademisi: Tagar-Tagar Itu Wujud Keinginan Gen Z Melihat Orang Indonesia Sejahtera

Akademisi dari Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansah mengatakan, aksi-aksi demo mahasiswa di hampir seluruh Indonesia yang mengusung tagar Indonesia Gelap menjadi ekspresi keresahan mereka. Terutama, tentang nasib masa depan mereka di Indonesia.

“Indonesia Gelap, gelapnya itu, anak-anak muda itu, Gen Z terutama, beranggapan kita ini seperti sudah tipis harapan untuk hidup yang sejahtera di Indonesia, kemudian ada asumsi mereka seperti madesu, masa depan suram,” kata Trubus dalam program Sate Demokrasi di kanal YouTube Mahfud MD Official, Kamis (20/02/2025).

Apalagi, ia mengingatkan, sejak masa-masa akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo sebenarnya masyarakat sudah khawatir karena minimnya lapangan pekerjaan. Sementara, ada banyak anak-anak lulusan SMA, SMK, D1, D2, D3, dan S1 yang membutuhkan kerja.

Akibatnya, mereka tidak lagi melihat ada lapangan-lapangan kerja yang diharapkan. Hal itu memicu ketidaknyamanan karena harapan-harapan yang dimiliki Gen Z ini tidak bertemu ruang penampungan, dan kebijakan-kebijakan yang ada dirasa tidak populis.

Bagi Trubus, pemerintah tentu boleh saja merasa kebijakan-kebijakan mereka sudah populis. Salah satunya pemangkasan anggaran-anggaran penting yang memang seakan tidak berhenti dikatakan demi rakyat, didalilkan demi kesejahteraan masyarakat.

“Tapi, ini pengertian populis bagi Gen Z lain, populis bagi Gen Z itu dia ingin melihat orang Indonesia itu istilahnya sejahtera, itu intinya,” ujar Trubus.

Trubus melihat, tagar Indonesia Gelap memiliki keresahan yang sama dengan tagar Kabur Aja Dulu. Sebab, mereka yang ingin mengejar dan menggapai kesejahteraan, tidak mampu menemukan tempat bernaung di Indonesia karena sulit mencari kerja.

“Kalau di Indonesia kerja susah ya mending di luar, mau jadi cleaning service, office boy, ya dilakukan, mau jadi pembantu tidak apa-apa asal kerja,” kata Trubus.

Trubus berpendapat, alasan-alasan belum terwujudnya kesejahteraan seperti karena pemerintahan baru berjalan 100an hari tidak tepat. Sebab, sekalipun baru berjalan 100an hari, pemerintahan hari ini mengusung konsep keberlanjutan dari sebelumnya.

Maka itu, ia menekankan, tidak salah jika masyarakat melihat pemerintahan ini tidak dari sisi itu, tapi dari sisi keberlanjutan program-program sebelumnya. Karenanya, tagar Kabur Aja Dulu menjadi wujud akumulasi kekecewaan yang sudah bertumpuk lama.

Kondisi itu masih ditambah cerita-cerita bahagia warga negara Indonesia yang hidup di luar negeri. Trubus menyayangkan, semua itu malah direspons pemerintah dengan reaksi-reaksi yang tidak bijaksana, bahkan lewat tuduhan-tuduhan menyakitkan.

“Dikatakan tidak patriotik, makin melukai, makin kencang, karena dipojok-pojokkan mereka dibilang tidak patriot. Saya ini orang Indonesia, tidak patriotik bagaimana tumpah darah saya Indonesia kok saya dianggap tidak patriotik, tidak nasionalis,” ujar Trubus. (*)