Psikolog Sarankan Pemerintah Lihat Sudut Pandang Rakyat Soal Kabur Aja Dulu, Jangan Judgemental

Tagar kabur aja dulu mengemuka sebagai ekspresi kekhawatiran generasi muda, terutama Gen Z, atas situasi dan kondisi Indonesia hari ini. Sayangnya, ramai tagar kabur aja dulu yang menggema di berbagai platform media sosial itu malah direspons sinis, bahkan dituding negatif oleh pejabat-pejabat negara.

Psikolog, Tara de Thouars mengatakan, pada dasarnya setiap ada masalah yang perlu dipertanyakan tentu saja kenapa itu bisa terjadi. Misalnya, di ruang konseling, ada kasus orang datang putus cinta lalu depresi. Dibanding meremehkan masalah itu, kita harus melihat kenapa kondisi itu bisa terjadi ke orang tersebut.

“Apakah ketika memilih pergi ke luar negeri berarti tidak nasionalis, belum tentu seperti itu, karena secara psikologis perubahan itu hal paling menakutkan bagi manusia. Ketika terjadi perubahan, berarti dia harus berada dalam sebuah ketidakpastian, bertemu hal-hal baru yang tidak bisa dikendalikan, dan itu sebuah ancaman besar,” kata Tara dalam acara Poker di kanal YouTube Mahfud MD Official, Rabu (19/02/2025).

Maka itu, ia menilai, secara naluri ketika dihadapkan pilihan antara tinggal di tempat yang sudah terbiasa atau di tempat baru, orang pasti memilih di tempat yang sudah terbiasa. Artinya, kemungkinan ketika orang memilih untuk membuat keputusan pergi ke tempat baru pasti dilatar belakangi sebuah alasan kuat.

Hal itu dikarenakan orang itu memilih ke luar dari zona nyaman, memilih menemui situasi baru yang tentu saja mengancam. Karenanya, Tara menekankan, yang harus dicari itu penyebab yang membuat biasanya orang senang berada di zona nyaman, kini orang-orang malah memilih untuk ke luar dari zona nyaman.

“Melihat dari point of view (sudut pandang) masyarakatnya, karena dengan begitu kita baru bisa menemukan solusinya. Jadi, bukan sekadar mengomentari biar tambah ramai lagi, atau inginnya menghentikan isunya, tapi justru melihat isu di balik itu apa dari sudut pandang masyarakatnya,” ujar Tara.

Tara mencontohkan, salah satu kunci seorang psikolog itu tidak judgemental atau tidak menghakimi orang lain karena semua orang pasti memiliki ego, termasuk mereka itu sendiri. Jadi, ia menegaskan, pemerintah harus tahu memposisikan diri sebagai siapa dan harus mampu memahami harus berperan sebagai apa.

Menurut Tara, sebagai pemerintah yang memiliki kewajiban memberikan rasa aman tentu saja tidak bijak memberikan respons yang menghakimi. Sebab, ia melihat, pada dasarnya yang dibutuhkan masyarakat hanya rasa aman, dan rasa aman itu sebenarnya sangat bisa disampaikan dalam macam-macam bentuk.

Dalam konteks ini, contohnya bisa berupa pemberian informasi, pembuatan aturan-aturan baru yang bisa membuat masyarakat merasa masa depannya aman, atau pembukaan lapangan-lapangan pekerjaan baru. Sebab, ia mengingatkan, lagi-lagi orang yang cemas kuncinya hanya diberikan rasa aman, bukan dihakimi.

“Kuncinya, orang sudah mendapatkan rasa aman, walaupun rasa aman itu belum tentu yang ada di depan mata, bisa jadi baru prospek. Sebab, orang kalau cemas sebetulnya harus diberikan rasa aman,” kata Tara.

Tara menyimpulkan, kemunculan tagar kabur aja dulu merupakan perwujudan perasaan orang yang secara emosi mungkin kebutuhannya belum terpenuhi menjadi semakin kelam. Tapi, ia menambahkan, fenomena ini harus pula diwaspadai karena bisa membuat orang-orang malah tambah FOMO atau takut ketinggalan.

“Oh, berarti kalau saya mau hidup lebih baik memang harus banget ke luar negeri. Dalam satu situasi tertentu mungkin saja tepat untuk beberapa orang, tapi belum tentu tepat untuk orang lain juga, saya cuma mengkhawatirkan karena masyarakat kita cukup mudah untuk FOMO,” ujar Tara. (*)