Mahfud MD Ceritakan Alasan Istana Negara Disebut Istana Rakyat di Era Presiden Gus Dur

Menteri Pertahanan periode 2000-2001, Mahfud MD, mengenang begitu terbukanya Istana Negara di kala Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur berkuasa. Menurut Mahfud, Gus Dur sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin datang menemuinya, membuat Istana Negara tidak lagi seseram seperti sebelumnya.

“Istana itu tidak menjadi seram, sehingga kalau zaman dulu sering kali kalau ke Istana pintu sana diperiksa, pintu sini diperiksa lagi. Nah, zaman ini enak, pokoknya jangan ngacolah ente, mau ke Istana ya ke Istana. Jadi, zaman Gus Dur itu Istana itu disebut Istana Rakyat,” kata Mahfud dalam program Ruang Sahabat di kanal YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (15/02/2025).

Mahfud menuturkan, keterbukaan itu membuat Presiden Gus Dur sudah mulai menerima tamu tidak hanya pada jam-jam kerja, tapi sudah dimulai usai melaksanakan ibadah shalat Subuh. Bahkan, jika ada tamu-tamu yang terhalang di Paspampres sekalipun, mereka tinggal menghubungi Gus Dur langsung.

“Habis shalat Subuh, Gus Dur sudah terima tamu-tamu, dari pesantren, dari mana, tinggal telfon saja Gus Dur kalau ada yang tidak bisa masuk, telfon saja ajudan Gus Dur, ‘Gus saya ini tidak bisa masuk ini, sama Paspampres dilarang, ajudan, itu panggil-panggil itu suruh ke sini, masuk ikut jalan-jalan sama Gus Dur,” ujar Mahfud.

Di luar itu, Mahfud terkesan dengan sikap Gus Dur yang melibatkan orang-orang dari berbagai kalangan kepakaran untuk menempati posisi-posisi penting di pemerintahan. Sehingga, pemerintahan tidak hanya diisi politisi, pejabat-pejabat birokrasi, ABRI atau kader-kader Partai Golkar, partai berkuasa saat itu.

Mahfud mencontohkan, ada sosok yang bukan dari kader partai politik, Wahyu Muryadi yang merupakan Pemimpin Redaksi Tempo dan ternyata dipilih menjadi Kepala Biro Protokol. Padahal, biasanya mereka yang menempati posisi itu berasal dari jabatan-jabatan birokrasi seperti eselon I, eselon II, dan eselon III.

“Saya, bukan orang partai, tiba-tiba diambil jadi menteri, mana jalurnya, jalur politik tidak ada, biasanya kalau akademisi masuk ya menjadi tim ahli Golkar dulu, saya bukan siapa-siapa masuk, ini di era Gus Dur,” kata Mahfud.

Bahkan, juru-juru bicara resmi Presiden Gus Dur seperti Adhie Massardi, Wimar Witoelar, dan Yahya Cholil Staquf merupakan orang-orang swasta, bukan politisi atau orang-orang partai. Menurut Mahfud, Gus Dur membuat Istana menjadi fleksibel menerima aspirasi-aspirasi rakyat dan luwes untuk berbagai gaya kerja.

Menurut Mahfud, Istana Negara sempat menjadi lebih santai pula di era Presiden Joko Widodo (Jokowi). Perbedaannya, ada batas-batas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dibicarakan kepada Presiden Jokowi. Sedangkan, dulu siapa saja boleh bicara dan apa saja boleh dibicarakan ke Presiden Gus Dur.

“Di era Gus Dur menjadi sangat sejuk ya, sehingga orang menyebutnya itu Istana Rakyat, zaman Gus Dur itu Istana Negara menjadi Istana Rakyat, sebutan orang menjadi Istana Rakyat, karena rakyat mau ke sana tidak dihalang-halangi,” ujar sosok yang mendapat julukan Peluru tak Terkendali dari Gus Dur tersebut.

Cerita Mahfud diamini jurnalis senior yang dulu merupakan Kepala Biro Protokol Presiden Gus Dur, Wahyu Muryadi. Ia mengingatkan, walaun ada pula yang kala itu mengkritik Istana seperti Pasar Malam, namun mereka yang positif merasa itu merupakan wujud dari reformasi yang benar-benar sampai ke Istana.

Menurut Wahyu, siapapun boleh datang, termasuk kyai-kyai khos, kyai-kyai kampung, yang datang tentu dengan mengenakan sarung dan sandal. Bahkan, Wahyu mengungkapkan, ada cerita dari Paspampres, Mayor Chandra Sukotjo, soal kyai-kyai yang datang tapi tidak dapat terlacak saat melewati metal detector.

“Iya ada cerita begitu, bisa dicek ke Pak Chandra Sukoco, tidak terlacak, wah ini aneh ini. Pokoknya begitu, dibuka ruang fleksibiilitas sedemikian rupa, sehingga kita tidak boleh menghambat-hambat orang mau datang ke Istana, walaupun dibatas-batasi diterobos terus sama beliau (Presiden Gus Dur),” kata Wahyu. (*)