Jurnalis Ini Ungkap Kedekatan Gus Dur-Mega: dari Semobil, Istana Batu Tulis, sampai Mangga

Presiden ke-4 dan ke-5 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarnoputri, ternyata menyimpan banyak cerita kedekatan saat berpasangan sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Hal ini diungkapkan jurnalis senior, Wahyu Muryadi, yang kala itu merupakan Kepala Biro Protokol Istana.

Suatu malam, Wahyu menceritakan, Gus Dur yang sedang bersama Megawati menyampaikan keluhan Mega soal perjalanan ke Istana Batu Tulis, Bogor. BGus Dur menyampaikan kalau Mega meminta tidak usah ramai-ramai, pertemuan dilakukan tertutup, terbatas, dan tidak perlu ada seremoni penyambutan.

“Wes ga usah macam-macam, ga usah pakai patwal-patwal, ga usah pakai nguing-nguing, dan yang paling penting ini, aku sama Mba Mega satu mobil katanya. Loh satu mobil berdua itu waduh, saya bayangkan ga karuan, sebentar Gus nanti mau tanya dulu keamanan, keamanan ga ada, memang musuhku siapa, sudah pokoknya kamu atur,” kata Wahyu dalam program Ruang Sahabat di kanal YouTube Mahfud MD Official, Sabtu (15/02/2025).

Walau kerap dipesankan Gus Dur soal presiden yang mengatur protocol dan bukan protocol mengatur presiden, Wahyu sempat ragu karena saat itu (2000an) banyak peristiwa ledakan bom dan kerusuhan. Mendengar kabar dari Paspampres, Wahyu langsung mendapat telfon dari Panglima TNI, Widodo AS.

Widodo menyampaikan kalau terlalu beresiko jika presiden dan wapres berangkat satu mobil. Namun, Wahyu yang tidak kuasa menolak permintaan itu menyarankan Widodo untuk bicara sendiri ke Presiden Gus Dur dan Wapres Mega yang ada di depannya. Mendengar tawaran itu, Widodo akhirnya menyerah.

“Akhirnya saya ngomong, Gus, ya sudah ini Panglima pesan kayak begitu, ya sudah saya turun pokoknya, ya sudah berangkat, loh jangan berangkat dulu, Komandan Paspampres mengingatkan saya waktu itu, Komandan Grup A waktu itu Kolonel Otte Ruchiyat, Pak Otte bilang eh jangan berangkat dulu Yu, kita atur dulu karena iring-iringan presiden dan wakil presiden waktu itu kan parkir bareng di Istana,” ujar Wahyu.

Wahyu mempersilakan Otte mengatur iring-iringan sambil mengingatkan permintaan Gus Dur dan Mega kalau tidak boleh ada pengawalan mencolok. Setelah lima menit, Otte memutuskan pengawalan tetap dilakukan tapi dilaksanakan dengan mode senyap atau diam-diam, tanpa diketahui Presiden dan Wapres.

Akhirnya, rombongan berangkat dari Istana Merdeka ke Istana Batu Tulis dengan tetap pengawalan penuh paspampres yang berjalan tanpa menyalakan sirine, baik bunyi maupun lampu. Bahkan, patwal-patwal yang ditugaskan berjalan dengan jarak satu kilometer dari rombongan mobil presiden dan wakil presiden.

“Sirinenya dimatikan, bunyinya dimatikan, lampunya dimatikan, tapi tetap patwal berjarak satu kilometer dari mobil presiden, cuma itu rahasia paspampreslah, yang penting presiden, wapres tidak tahu, pokoknya kita amankan dengan baik, tapi ya senanglah Gus Dur, yowes satu mobil dengan Bu Mega,” kata Wahyu.

Dari pertemuan itu, Wahyu mengungkapkan, barulah Gus Dur ketahui kalau Istana Batu Tulis memiliki kesan nostalgia tersendiri bagi Megawati. Sebab, ternyata Istana Batu Tulis sebenarnya milik pribadi Presiden ke-1 RI dan Proklamator, Soekarno atau Bung Karno, yang merupakan ayah dari Megawati.

“Sampai akhirnya ketahuan bahwa itu milik pribadi Presiden Soekarno, maka oleh Gus Dur sebagai presiden ya memutuskan memberikan sertifikat itu kepada ahli waris, dalam hal ini diwakilkan oleh Bu Mega, sekarang Istana Batu Tulis menjadi milik keluarga Bung Karno,” ujar mantan Pemred Tempo itu.

Wahyu menambahkan, Gus Dur dan Megawati memang memiliki kedekatan sejak lama, seperti kakak-adik, bahkan sejak mereka sama-sama masih menjadi aktivis. Menurut Wahyu, jika keduanya bertemu, Megawati sudah tahu apa makanan kesukaan Gus Dur yang harus dihidangkan. Salah satunya, mangga.

“Bu Mega sudah tahu, buahnya itu sukanya itu buah mangga, mangga yang cara mengupasnya Bu Mega itu khas. Kenapa sih Gus, cara mengupasnya itu khas, diiris, atasnya kemudian dipotong-potong, dibelah-belah kayak kura-kura begitu, Gus Dur tinggal makan, sambil begitu beliau-beliau ngobrol, macam-macam, soal politik sampai soal-soal yang sangat pribadi dalam arti hal-hal yang sangat spriritual,” kata Wahyu. (*)