Mahfud MD Sentil Menteri dan Wamen yang Komentari Jahat Tagar Kabur Aja Dulu

Pakar hukum tata negara, Mahfud MD mengatakan, tagar kabur aja dulu seharusnya dapat dijawab secara lebih bijak oleh pejabat-pejabat terkait. Sebab, itu merupakan wujud kepedulian dari masyarakat yang tidak ingin menambah rusak negaranya, tapi memilih mencari kehidupan di luar negeri terlebih dulu.

“Jangan dijawab kabur aja dulu ya sudah kabur saja sesudah itu jangan kembali, ngapain lu, nah itu pernyataan, jawaban yang sangat jahat, orang mau cari selamat, kabur aja dulu itu biar bisa hidup lalu malah tidak boleh pulang, bukannya malah sadar di Indonesia perlu dibersihkan dari itu,” kata Mahfud dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di kanal YouTube Mahfud MD Official, Selasa (18/02/2025).

Mahfud menilai, mendengungkan kabur aja dulu merupakan sikap yang sudah sangat baik yang dipilih masyarakat Indonesia. Artinya, mereka lebih memilih menghindar terlebih dulu dibandingkan mereka melakukan langkah-langkah yang bisa menambah rusak, seperti yang terjadi di banyak negara-negara.

“Indonesia sudah baik, sudah baik mengatakan kabur aja dulu karena itu mengikuti paham agar negara tidak rusak, saya tidak memberontak, kabur aja, kan gitu kan. Di negeri lain diusir pemerintahnya, di Syria diusir, di Tunisia diusir, kita mau kabur aja cari hidup kok tidak boleh pulang, itu jawaban yang sangat tidak bijaksana. Kita ingin baik-baik, kalau tidak bisa hidup di mana, rakyat itu harus dipahami,” ujar Mahfud.

Mahfud turut menegur pejabat-pejabat yang malah mengejek dan mempertanyakan nasionalisme mereka yang mendengungkan tagar kabur aja dulu. Ia merasa, rasa hormat ke pejabat-pejabat atau ke pemerintah itu bisa luntur jika ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan arogansi kekuasaan dibiarkan terus tumbuh.

Bahkan, ia mengingatkan, sudah banyak negara-negara yang menjadi contoh ketika rakyatnya memilih cara yang lebih keras dan pada akhirnya menumbangkan pemerintahnya. Antara lain dialami Presiden Yoon Suk Yeul (Korsel), Perdana Menteri Sheikh Hasina (Bangladesh), dan Presiden Bashar al Assad (Syria)

“Seperti di Korea (Selatan) dilawan, dilawan, masuk penjara pemerintahnya, seperti di Bangladesh diusir pemerintahnya, di Syria diusir, kita baik-baik, saya cari di dalam tidak bisa, kabur aja dulu,” kata Mahfud.

Menurut Mahfud, kabur aja dulu mungkin memang sikap yang terdengar keras untuk mewakili perasaan masyarakat ketika melihat keadaan yang tidak baik. Tapi, ia merasa, itu merupakan penjelasan bahwa di dalam rasa frustasi yang diderita, mereka lebih memilih mencari kesempatan luas yang ada di luar negeri.

Apalagi, dalam dunia bisnis sudah banyak anak-anak muda yang menyampaikan frustasi mereka tentang sulitnya mengurus perizinan. Misalnya, mereka yang ingin memulai startup pada akhirnya lebih memilih mengurus izin di Singapura, Dubai, dan negara-negara lain karena bisa cepat, bahkan langsung beroperasi.

“Apa yang terjadi, di Indonesia mereka dipersulit, di luar negeri mereka dilayani dengan baik, ya kabur aja, yang tidak punya ijazah kabur dengan ilegal, lalu harga diri bangsa kita jadi terinjak-injak,” ujar Mahfud.

Mahfud melihat, tagar seperti itu dari waktu ke waktu sudah ada karena di negara kaya seperti Indonesia banyak orang yang miskin terpaksa menyambung nyawa di luar negeri. Sedangkan, mereka yang pintar-pintar bekerja profesional di luar negeri karena lebih dihargai di luar negeri daripada di dalam negeri.

Lagipula, ia menambahkan, kabur aja dulu sebenarnya pandangan ahlusunnah wal jamaah karena dalam NU ada pandangan agar jangan melakukan pemberontakan yang membuat negara macet, sehingga rakyat lebih sengasara. Jadi, kabur aja dulu jadi jawaban yang netral daripada mengusir pejabat-pejabat negara.

“Oleh sebab itu, harus dimaklumi dan dipahami, bukan dimusuhi orang mengatakan begitu itu, harus dianggap sebagai masukan tentang bagaimana seharusnya negara kita kelola bersama,” kata Mahfud. (*)