Coordinator of Middle Power Studies Network, Jenny Sari Winata mengaku heran, di era di mana semua orang bebas bicara seperti sekarang, serba-serbi tentang Gen Z menjadi topik yang sering sekali menjadi pembahasan utama. Anehnya, ia merasa, jarang ada orang-orang yang mengevaluasi generasinya sendiri.
“Di dunia sekarang ini dengan media dan semua orang bicara di podcast, di talkshow, Gen Z itu topik banget ya, topik banget untuk dievaluasi, tapi kok aku jarang melihat artikel yang mengevaluasi generasinya sendiri,” kata Jenny dalam Poker di kanal YouTube Mahfud MD Official, Rabu (05/02/2025).
Jenny mempertanyakan, jika tujuannya baik bukankah lebih baik setiap orang mengevaluasi masing-masing dibandingkan hanya saling tunjuk dan menyalahkan generasi lain. Apalagi, ia mengingatkan, hari ini saja masih ada orang-orang tua yang malah menularkan tradisi-tradisi buruk ke generasi berikutnya.
“Tidak jarang orang tua ada loh yang mengajarkan, sudahlah kamu pakai uang, coba kita riset. Tapi, riset yang ada seberapa sering kita bilang mental health, semakin di zoom in nanti semakin amplified (menguat label-label) Gen Z itu strawberry generation, semakin ada bias dan semakin ada sugesti,” ujar Jenny.
Selain itu, Jenny menyoroti seringnya orang mencampur adukkan antara hirarki dan kesopanan untuk menilai Gen Z. Ia menekankan, ketika ada anak-anak Gen Z yang tidak suka akan budaya hirarki, itu bukan berarti mereka tidak sopan. Jenny mengajak semua melihat kemungkinan-kemungkinan yang positif.
Salah satunya tentang kemungkinan adanya perbedaan budaya dari masing-masing generasi, sehingga ada sedikit perbedaan dari cara-cara yang dilakukan. Sayangnya, Jenny mengingatkan, hari ini sudah cukup sering kita diperlihatkan fakta kalau hal-hal merit seperti kapasitas, kapabilitas, malah tidak dihargai.
Jenny turut mengajak kita menilai apakah pemimpin kita sudah cukup melibatkan generasi muda, cukup menunjukkan pentingnya kemampuan, atau cukup menampilkan kalau meritokrasi sudah bisa terwujud. Sebab, jika itu belum dilakukan, tidak adil kita saling menyalahkan atau menyalahkan generasi tertentu.
Jenny menyadari, banyak stigma-stigma terhadap Gen Z seperti merasa berhak mendapatkan sesuatu tanpa melakukan usaha atau harus mendapat penghargaan atas kerja-kerja yang dilakukan. Bagi Jenny, itu kesalahan yang bisa dialami semua orang, bukan kesalahan yang bisa digeneralisasi ke satu generasi.
“Kita harus belajar dari tetua kita yang memang kerja keras, rendah hati, disiplin dan konsisten, ini yang kita mungkin kurang karena stigma kan pasti alasannya, ini yang bikin kita harus belajar lebih banyak lagi,” kata Jenny.
Jenny berharap, setiap orang mampu menilai orang lain secara adil melalui kapabilitasnya, jangan hanya karena keistimewaan-keistimewaan tertentu. Menurut Jenny, saling menunjuk atau saling menghakimi antar generasi, termasuk kepada Gen Z, hanya akan mengakibatkan demotivasi ke generasi itu sendiri.
Misalnya, ketika ada orang-orang yang menghakimi Gen Z sebagai generasi yang apatis, coba dipikirkan saja sikap apatis itu datang dari mana. Terlebih, Jenny menambahkan, sampai hari ini saja masih cukup banyak generasi-generasi, selain Gen Z, yang mempertahankan tradisi buruk yang ada di generasinya.
“Ketika kamu bilang kita dikit-dikit tidak mau kerja keras, ada loh bagian-bagian dari older generation yang menunjukkan apa-apa pakai uang, termasuk polisi, termasuk imigrasi. Ini kan contoh yang membuat kita ketika lahir dihadapkan sama kenyataan ini, bahwa dunia memang seperti ini,” ujar Jenny. (*)
