Intelektual, Hamid Basyaib, memberikan pesan penting untuk Gen X (kelahiran 1965-1980) yang kerap menghakimi atau memberikan penilaian kepada generasi-generasi lain. Ia mengingatkan, setiap orang memiliki masa hidup masing-masing, sehingga tidak tepat jika mengklaim diri sebagai generasi terbaik.
“Sama generasi saya itu jangan sok jadi pahlawan, sudah yang wajar saja, setiap manusia, setiap generasi hidup pada masanya masing-masing, masa hidup kita, kami, generasi ini, belum tentu yang terbaik,” kata Hamid dalam program Poker di kanal YouTube Mahfud MD Official, Rabu (06/02/2025).
Bicara demokrasi, Hamid turut menyoroti Gen X yang kerap membanggakan diri yang paling berperan dalam peristiwa sejarah seperti Reformasi 1998. Ia merasa, itu merupakan kekuatan sejarah yang besar dan Gen X kebetulan saja berada di dalamnya, belum tentu mengambil peran sebagai penggeraknya.
Maka itu, Hamid berharap, Gen X yang kebetulan menyaksikan peristiwa itu tahu diri dan tidak malah memanfaatkannya untuk berbangga hati. Apalagi, ia menekankan, membanggakan itu dengan memberi pandangan negatif kepada generasi-generasi lain yang memang tidak mengalami, terutama ke Gen Z.
“Saya rasa perlu berprasangka baik saja, jangan gelisah kemudian melihat Gen Z kelihatannya malas, tidak. Dia juga tidak saking benarnya waktu seumur yang sama, jadi optimistih lah,” ujar Hamid.
Hamid sendiri memiliki anak yang masuk kategori Gen Z. Ia menilai, anaknya tentu saja aneh sebagaimana remaja pada umumnya dan itu bukan sesuatu yang perlu dikeluhkan orang tua. Misalnya, ketika mereka dikirimi pesan WhatsApp, mereka kerap tidak membalas atau baru membalasnya tidak hari kemudian.
Mungkin, Hamid menuturkan, orang-orang zaman dulu melihat itu sebagai tindakan yang kurang ajar, terutama karena itu dilakukan kepada orang tua. Tapi, ia melihat, itu sesuatu yang biasa saja, bukan negatif, dan lebih memilih membiarkan anak-anak menikmati hari dengan kawan-kawan segenerasi.
“Sudah lewat itu, saya justru biar dia menikmati harinya dengan kawan-kawan segenerasinya, punya macam-macam ide, tapi secara umum saya lihat tidak negatif kok. Nah, ini kesan umum yang menganggap bahwa mereka negatif, kurang nasionalistik, cepat lelah, dan sebagainya, saya kira itu kesan-kesan permukaan banget, saya bisa melihat dari sudut lain,” kata jurnalis dan penulis senior tersebut.
Hamid membenarkan, memang Gen Z memiliki resiko kebanjiran informasi karena kemajuan teknologi memudahkan, bahkan memaksa informasi datang begitu deras kepada mereka. Kondisi itu memang memberikan dampak seperti pemahaman informasi mereka tidak matang atau tidak terlalu dalam.
Hamid meyakini, ketika kita ingin menjadi pintar, pintar yang benar-benar pintar dan bukan hanya terlihat pintar, memiliki pemikiran mendalam tidak ada cara lain selain membaca buku. Karenanya, informasi yang didapatkan dari media sosial dan lain-lain tentu saja berguna, tapi jangan sampai dijadikan sumber utama.
Ia menyayangkan, Gen X yang seharusnya memandu Gen Z malah sering mudah melabeli mereka dengan ukuran subyektif pribadinya. Menurut Hamid, langkah itu tidak tepat karena jika masing-masing orang saja memiliki tantangannya tersendiri, memiliki imajinasinya tersendiri, apalagi masing-masing generasi.
“Misalnya, mereka dianggap kurang nasionalistik, saya kira tidak. Mereka cinta Indonesia, cinta banget, bahwa caranya berbeda iya, masa caranya sama terus, masa tidak ada perubahan atau tidak ada kemajuan. Nah, semua tuduhan-tuduhan itu pasti datangnya dari generasi yang lebih tua, yang konservatif, yang melihat apa apa dengan patokan-patokan dirinya,” ujar Hamid. (*)
