Inisiatifnews.com – Aktivis Nahdlatul Ulama, Mabroer Masmuh menyampaikan bahwa perjuangan untuk menegakkan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia bukan pekerjaan mudah.
“Untuk menyatukan persepsi seluruh rakyat Indonesia tentang Pancasila sebagai Asas Tunggal, jalannya pun tidak mulus karena banyak menimbulkan berbagai polemik dan gesekan,” kata Mabroer dalam keterangannya untuk merefleksikan Hari Lahir Pancasila 1 Juni, Senin (1/6/2020).
Bahkan ia menyebut, bahwa pertaruhan untuk menegakkan dan menjaga Pancasila bisa sampai dengan pertumpahan darah.
“Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengganti dasar negara RI tersebut, bahkan hingga pertumpahan darah,” ujarnya.
Berbagai organisasi keagamaan besar termasuk di dalamnya adalah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah juga pernah melewati masa sulit itu.
“Ormas seperti NU, Muhammadiyah serta yang lainnya juga tak bisa menghindari fase-fase kritis tersebut. Tapi, Alhamdulillah, semua polemik tentang ideologi NKRI itu akhirnya jadi indah pada pamungkasnya,” jelasnya.
Hanya saja, perjuangan mempertahankan Pancasila sebagai ideologi tunggal juga masih belum berakhir. Di mana, Mabroer menyebut masih ada sekelompok orang bahkan dari kalangan anak muda Indonesia justru ingin mengganti ideologi tersebut dengan ideologi lain.
“Ternyata masih ada fenomena sosial yang agak mengganggu pikiran. Kenapa? Belakangan ini gugatan terhadap eksistensi Pancasila kembali mencuat dan benih penolakan itu justru tumbuh subur,” pungkasnya.
“Tak tanggung-tanggung, jumlahnya cukup signifikan, sekitar 10 -13% dari anak-anak bumi Pertiwi ini yang mayoritas kaum muda justru jadi penggeraknya,” imbuhnya.
Ia berharap besar, suatu saat kelompok tersebut bisa sadar bahwa mereka adalah bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia.
“Semoga gerakan itu segera menemui titik kesadaran kebangsaannya sebagai bagian integral NKRI,” tandasnya.
Betatapun itu, Mabroer pun masih memiliki optimisme bahwa seluruh bangsa Indonesia tanpa terkecuali akan kembali memiliki kesadaran yang baik terhadap bangsanya. Di mana Pancasila sebagai asas tunggal bisa dipahami dan dilaksanakan dengan baik.
“Harapannya, semoga Pancasila tetap terpatri dalam sanubari anak-anak generasi terkini. Indonesia tetap jaya dengan semaian benih kedamaian, solidaritas dan kesetiaan merawat warisan para pendiri bangsa. Amiiin,” tutupnya.
