Sejak pemberlakuan PSBB, polarisasi masyarakat kita makin tajam. Semula, banyak yang berharap, pandemi Corona bisa menyatukan diantara kita sebagai sesama anak bangsa. Tapi harapan itu ternyata jauh panggang dari api. Diantara kita masih ada yang terjebak syahwat politik, meski terkadang semua dibungkus dan dibumbui oleh jargon-jargon agama. Saling menafikan dan saling merendahkan hanya karena beda pilihan serta afiliasi politiknya.
Dari sinilah, kita jadi ragu bahwa demokrasi kita tengah bergerak ke arah yang lebih baik dan lebih beradab. Dari waktu ke waktu, kecenderungan warna politik identitas yang kini mulai mengarah ke ‘mazhab’ populisme itu makin menguat. Kegamangan itu kian bertambah seiring dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan Medsos untuk memuaskan dahaga kemarahan, kekecewaan, kecemburuan, ketidak sukaan kepada orang maupun yang tak sealiran. Akibatnya, hoaks dan fitnah seakan telah dihalalkan oleh agama sehingga tak sedikit pemuka agama di level tertentu justru menjadi agen beragam penyakit hati yang bisa menjadi hijab di antara kita dengan Tuhan.
Dalam era euforia Medsos serta disorientasi religiusitas itulah, media mainstream yang semula diharapkan menjadi jendela kebenaran sekaligus filter isu-isu yang bisa memicu perselisihan sosial justru kadang terjebak dengan interest politik praktis. Dan, diantara media mainstream yang cukup efektif menawarkan panggung pertunjukan itu adalah media visual dengan segala hingar-bingarnya.
Dari sinilah kita bisa melihat adanya perang isu dan narasi itu makin tak berkesudahan. Mulai soal Khilafah, PKI, Cina, hingga Radikalisme. Yang lebih fatal lagi, masing-masing pihak selalu merasa dirinya paling benar dan paling absah untuk melakukan pembelaan. Dari berbagai isu tersebut, tentu ada yang nyata gerakannya, tapi ada juga yang hanya jadi narasi belaka untuk menjatuhkan lawan politiknya. Kita hanya bisa berharap, semestinya negara selalu hadir untuk membasmi bibit perpecahan itu atas nama NKRI, bukan yang lain, apalagi ‘like and dislike‘. Bukankah isu-isu tersebut ada benang merahnya dengan pertarungan di antara kekuatan blok Barat vs blok Timur yang ujung pangkalnya juga ekonomi dan pengaruh politik?.
Polarisasi itu bisa kita rasakan dalam berbagai level, utamanya di media sosial, bahkan terasa efeknya hingga dalam pergaulan sehari-hari. Kita jadi cenderung suka mempersempit ruang pergaulan karena suka risih dengan yang tak sepaham. Bahkan tak jarang ada komunitas yang punya hoby baru yakni share isu-isu provokatif, meski itu hanya buah kerja rekayasa dan framing yang bertujuan untuk melampiaskan kekesalan, kekecewaan dan frustasi atas agenda mereka yang tak kesampaian. Bagi tipe seperti ini, semua itu halal dilakukan meski berbau fitnah dan hasud.
Oleh karena itu, belakangan ini acapkali kekhilafan seseorang itu justru dijadikan amunisi untuk saling menjatuhkan. Apalagi, jika yang terkena sial karena khilaf itu tokoh publik seperti penceramah, pejabat, artis, maupun publik figur lainnya. Kini, nilai-nilai kebenaran itu hanya bisa diterima nalar jika disampaikan oleh kelompok maupun tokoh panutannya. Jika tidak, maka kebenaran itu pun dianggap ‘absurd‘. Bahkan ujaran kebencian pun jika disampaikan oleh orang yang disuka, itu pun dianggap bagian dari warna demokrasi.
Jika melihat fenomena sosial seperti itu, kita jadi sadar bahwa sebetulnya perang narasi dengan ragam isu seperti PKI, Anti Cina, Syiah, radikalisme serta isu lainnya itu tidak berdiri sendiri. Dibbalik semua itu, ada aktor-aktor utama yang jumlahnya tak seberapa tapi gerakannya cukup efektif untuk mengoyak-koyak solidaritas sosial dan kebersatuan kita. Siapa mereka? Wujudnya seperti kentut, ada baunya tapi tak bisa disentuh oleh aparat. Apalagi jika sentuhannya itu tidak menggunakan tangan yang bersih dan hati jernih.
