Madura, Inisiatifnews.com – Direktur Madura Corruption Watch (MCW) Syukur Sabidin, menilai bahwa saat ini masih banyak partai yang menjadikan mantan narapidana kasus korupsi sebagai salah tokoh idola.
Langkah ini justru dinilainya malah menjadi blunder tersendiri, karena partai berlambang Kakbah itu akan memiliki citra anti pemberantasan korupsi di mata masyarakat.
Salah satu kasus terbaru yang menjadi sorotan MCW adalah berlabuhnya mantan Bupati Pamekasan Achamd Syafi’i di PPP Cabang Pamekasan. Syafi’i baru saja dari tahanan setelah divonis dua tahun delapan bulan oleh Pengadilan Tipikor Surabaya pada 2017 lalu.
“Berarti komitmen partai tersebut untuk pemberantasan korupsi perlu dipertanyakan, apakah partai ini tidak punya kader lain, kader yang terbaik. Akhirnya seorang mantan napi ini yang dimunculkan lagi,” kata Syukur kepada media, Sabtu (25/4/2020).
Keputusan PPP Pamekasan yang merangkul Syafii ini dinilai membuat citra partai semakin terpuruk. Apalagi dua mantan ketua umumnya yaitu Suryadharma Ali dan M. Romahurmuziy tersandung kasus korupsi di saat mereka masih sebagai ketua umum. Dan keduanya diberhentikan oleh PPP.
“PPP merupakan partai yang mempunyai basis di Pesantren, sudah seharusnya mengedepankan nilai-nilai santri dan aktif memberikan pendidikan politik yang bersih kepada masyarakat,” ujarnya.
Syukur menambahkan bahwa masyarakat saat ini sudah pandai memilih partai dan tokoh yang bisa mewakili mereka. Masyarakat Jawa Timur, khususnya Madura sudah cerdas dalam menentukan pilihan politik mereka.
“Masyarakat, khususnya anak mudanya saat ini perlu menyuarakan menolak mantan koruptor di panggung politik,” jelas Syukur.
Syafi’i sebelumnya pernah memulai karir di PPP hingga mengantarkannya menjadi bupati. Namun kemudian pada tahun 2009 Syafii loncat ke Partai Demokrat dan menjadi caleg DPR RI. Beberapa waktu lalu dia terlihat dua kali ikut terjun dalam acara bakti sosial DPC PPP Pamekasan. Yakni di alun-alun arek lancor (22 April) dan Pasar Waru (23 April). [SIM]
