KITA Dikejutkan berita terkini bahwa Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dinyatakan positif terkena virus Corona atau Covid-19. Diduga, Menhub terpapar sewaktu ikut menyambut kedatangan 69 WNI yang jadi ABK kapal pesiar Diamond Princess di Bandara Kertajati, Majalengka awal Maret 2020.
Pengumuman ini selain mengejutkan, juga menguatkan peringatan WHO yang telah meningkatkan status tertinggi dari virus endemi menjadi pandemi. Kenapa? Seperti disampaikan Direktur Jendral WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus akselerasi virus tersebut berlangsung 13 kali lipat dan melanda 114 negara sehingga perlu ditingkatkan statusnya, pandemi. Bahkan, WHO pun sudah meminta Jokowi segera bertindak lebih serius. Kemudian, muncullah sejumlah usulan seperti lockdown atau dicegah masuk dan keluar dari suatu zona.
Secara medis, virus ini telah menjadi ancaman serius. Jika tidak tepat dalam mengambil kebijakan untuk membendung penyebaran virus tersebut, bisa berakibat fatal. Cukuplah pelajaran yang dialami oleh banyak negara itu menjadi bahan kajian yang serius, apalagi saat ini tidak kurang dari 120 ribu orang sudah terkena virus tersebut dan 4.291 diantaranya telah dinyatakan meninggal. Yang patut dicatat, ternyata di Tiongkok sendiri kini telah mengalami proses recovery cukup signifikan karena WHO menyatakan bahwa 70% dari 80.000 pasien yang terjangkit Corona sudah dinyatakan sembuh.
Kenapa Tiongkok bisa sukses melewati masa kritis? Pemerintah dan rakyatnya bersatu padu menghadapi musibah tersebut bahkan tak sedikit donasi diberikan oleh rakyatnya sehingga mereka benar-benar disatukan oleh satu tekad untuk menghadapi Corona. Dengan kata lain, mereka terkesan lebih bernalar dan beradab dalam menghadapi musibah, bukan sebaliknya. Sudahkah kita seperti mereka?.
Sebagai orang beragama, tentu saja diharapkan agar ketakutan terhadap Corona tidak menggeser keimanan kita. Oleh karena itu menjadi menarik cerita beberapa pasien yang sembuh dari virus Corona yakni membutuhkan sikap tenang dalam menghadapinya.
“Jangan panik, tapi pikirkanlah resiko tinggi individual dan tetaplah di rumah, jika kamu merasa sakit,” pesan Elizabeth Schneider (37), pasien Corona dari AS. Pesan serupa sudah banyak disampaikan oleh para pasien Corona dari berbagai belahan negara. Pesan itu bisa dimaknai bahwa pengobatan yang komprehensif sangat diperlukan yakni medis dan non medis atau pendekatan sprirtualitas agar terhindar dari kepanikan sosial, apalagi masih terlihat nyata tangan-tangan jahil yang menyebar hoaks dan provokasi.
Seperti halnya Iran, Menhub Budi Karya menjadi pejabat tinggi pertama di Indonesia yang terkena virus tersebut. Sebelumnya, telah banyak pejabat tinggi yang terkena seperti Jubir Presiden Brazil, Fabio Wajngarten (12 Maret), Wapres Iran Massoumeh Ebtekar (27 Februari), istri Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau yakni Sophie Gregoire Trudeau, Menteri Kesehatan Inggris Nadine Dorries, Kepala Hakim Iran Mostafa Pourmohammadi, Menteri Dalam Negeri Australia Peter Dutton, juga Wali Kota Miami Francis Suarez. Rata-rata virus yang menular berasal dari forum pertemuan, meski dalam skala kecil, termasuk pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump. Bagi kita, berita tentang Menhub ini seakan menjadi warning yang serius agar kita segera merapatkan barisan sekaligus move on dari ‘dogma konyol’ 01 dan 02 yang sering menyandra kewarasan nasional.
Dari pengalaman negara-negara lain, terlihat bahwa kesigapan pemerintah menjadi harga mati dalam menghadapi musibah global pandemi seperti Corona ini. Bukan hanya meminta bersabar dan tenang, tapi kita pun membutuhkan bukti keseriusan sekaligus ketulisan dari negara untuk hadir di tengah-tengah kegalauan publik seperti saat ini, bukan malah sebaliknya.
Saling serang atau saling puji bukanlah solusi karena negara harus satu kata dalam menerjemahkan kebijakan-kebijakannya agar rakyat pun jadi lebih tenang dalam menghadapi musibah, bukan malah diprovokasi.
