Inisiatifnews.com – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengatakan, ada sejumlah gejala dalam proses hancurnya sebuah negara.
Jika empat hal ini mulai muncul bahkan masif, artinya sebuah negara perlu waspada. Sayangnya, gejala-gejala ini mulai mengemuka di Indonesia.
“Gangguan yang pertama adalah kekurangbersatuan kita. Misalnya muncul gejala intoleransi,” ungkap Mahfud saat membuka diskusi Bincang Seru Mahfud yang diadakan oleh MMD Initiative, Wahid Foundation dan Universitas Indonesia (UI) dengan tema Keadilan yang Memberdayakan di Balai Purnomo Prawiro, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (17/2/2024).
Hadir dalam diskusi tersebut, Putri Presiden Gus Dur Yenny Wahid, Rektor Universitas Indonesia, sejumlah pengajar dan civitas akademika UI serta mahasiswa dari Universitas Nasional. Hadir juga komedian Mamat Alkatiri, Cak Lontong dan Akbar dalam acara ini.
Kembali ke Mahfud, gejala kedua adalah adanya ketidakadilan. Nah, jika hal-hal ini mulai mucul dan masif, lama kelamaan akan berujung pada hancurnya sebuah negara.
Sebuah negara yang tidak adil dan tidak bersatu itu bisa disebut sebagai negara yang disorientasi, yakni menyimpang dari orientasi yang seharusnya.
Selanjutnya, sambung Mahfud, apabila disorientasi terus berlanjut, maka akan terjadi public distrust atau ketidakpercayaan publik kepada negara.
Setelah rakyat tidak percaya kepada pemerintah dan kelangsungan negaranya, maka akan terjadi disobedience atau pembangkangan. Lebih jauh, jika perlawanan masih dihadapi dengan ketidakadilan, akan terjadi disintegrasi.
“Kalau disobedience terus terjadi dan dibiarkan terus, maka akan terjadi disintregasi,” ingat Mahfud.
Mahfud mengingatkan juga agar masyarakat Indonesia harus waspada. Dia menyebut hancurnya kerajaan-kerjaan di Indonesia yang dulu pernah berjaya juga disebabkan hal-hal yang telah ia sebutkan.
“Sebutlah apa saja. Majapahit, Mataram, Demak, san Sriwijaya. Itu hancur karena disorientasi, distrust di tengah-tengah masyarakat, disobedience yang akhirnya terjadi disintregasi,” tegas Mahfud. (FMM)
