Iran Vs Amerika Memanas, Awal Perang Dunia III Meletus?

Amerika dan Iran
Ilustrasi.

Inisiatifnews – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim, serangan drone pasukan AS yang membunuh jenderal Garda Revolusi Iran, Qassem Soleimani bukanlah act of war atau aksi untuk memulai perang dengan Iran. Trump menyebut, ia mengesahkan serangan tepat sasaran kepada komandan dinas keamanan dan intelijen Iran itu, untuk mencegah perang. Soleimani, diklaim Trump, sedang merencanakan serangan terhadap warga Amerika.

“Militer Amerika Serikat melakukan serangan tepat sasaran tanpa cacat yang menewaskan teroris nomor satu di dunia Qasem Soleimani. Soleimani merencanakan serangan yang kejam terhadap diplomat Amerika dan personel militer, tetapi kami menangkapnya dalam tindakan itu dan menghentikannya,” kata Trump di resor pribadinya, di Mar-a-Lago, Florida pada Jumat, sehari setelah serangan yang menewaskan Qassem Soleimani di bandara Baghdad, seperti dilansir CNN.

Bacaan Lainnya

Soleimani, sebut Trump, harusnya sudah dibunuh oleh presiden AS sebelumnya. Dia pun menegaskan, keputusannya membunuh Soleimani ini sebagai salah satu pencegahan terhadap perang, bukan agresi. “Kami menilai tindakan tadi malam untuk menghentikan perang. Kami tidak mengambil tindakan untuk memulai perang,” kata Trump.

Iran dan Sekutunya Bereaksi

Teheran naik pitam. Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami menyakinkan, Iran akan membalas dendam atas pembunuhan Mayor Jenderal Soleimani.

“Balas dendam yang menghancurkan akan diambil untuk membalas pembunuhan Soleimani yang tidak adil. Kami akan membalas dendam dari semua yang terlibat dan bertanggung jawab atas pembunuhannya,” kata Hatami dikutip kantor berita negara IRNA.

Meskipun Trump menyebut, AS enggan perang, namun pembunuhan Soleimani yang juga pemimpin pasukan Elite Quds Iran sekaligus sosok heroik dan dihormati di Timur Tengah, memicu spekulasi terjadinya perang dunia ketiga atau World War III. Apalagi serangan mematikan ini atas arahan Trump.

“Garda Revolusi, bangsa Iran yang bijaksana dan front perlawanan di dunia Muslim yang membentang luas akan membalas tumpahnya darah syuhada ini (Soleimani). Kegembiraan Zionis Israel dan Amerika dalam waktu dekat akan berubah menjadi ratapan,” begitu kata juru bicara Garda Revolusi Iran Ramezan Sharif dalam siaran televisi nasiona Iran dikutip Reuters.

Presiden Iran Hassan Rouhani serta Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan, negeri para Mollah ini akan lebih keras berkonfrontasi menentang ekspansionisme AS serta membela nilai-nilai Islam. Kata Rouhanu, Iran bakalan mengambil jalan pembalasan.

Sementara Khamenei menegaskan, jihad akan berlanjut dengan motivasi yang berlipat ganda, dan kemenangan yang nyata tengah menanti para pejuang dalam perang suci. Dia pun menyerukan hari berkabung nasional selama tiga hari.

Sekutu Iran, China dan Rusia ikut mengecam. Kementerian Luar Negeri China mengecam penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional. China mendesak Amerika mengendalikan diri demi menghindari ketegangan lebih lanjut. Perdamaian dan stabilitas di kawasan Timur Tengah harus senantiasa berlangsung. Sedangkan Kementerian Luar Negeri Rusia juga menyebut, pembunuhan tokoh militer Iran jelas akan meningkatkan ketegangan di kawasan.

Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi juga mengecam pembunuhan ini. Serangan udara yang berlangsung di bandara Baghdad jelas aksi agresi terhadap Irak dan pelanggaran atas kedaulatan, yang akan mengarah pada perang di Irak, kawasan, dan dunia.

Serangan itu juga melanggar syarat-syarat yang telah ditetapkan menyangkut keberadaan militer AS di Irak dan harus dipenuhi dengan undang-undang untuk menjaga keamanan dan kedaulatan Irak, katanya menambahkan. Mahdi mendesak parlemen Irak untuk menggelar sidang luar biasa untuk membahas dan menyikapi peristiwa serangan tersebut.

Inggris Siaga, AS Kirim Pasukan Tambahan

Negara-negara sekutu AS pada siaga. Inggris meningkatkan pengamanan dan kesiagaan di pangkalan-pangkalan militernya di Timur Tengah. Sementara Kedutaan Besar Amerika Serikat di Bagdad meminta semua warganya secepatnya meninggalkan Irak dengan pesawat jika memungkinkan, dan jika tidak, ke negara-negara lainnya melalui jalan darat.

Selain itu, negara Adidaya ini berencana ngerahin lebih dari 3.500 tentara tambahan ke kawasan Timur Tengah. Dilansir AFP, pengerahan tentara tambahan ini berasal dari Divisi Lintas Udara ke-82 Pasukan Tanggap Global, yang telah mengirimkan ratusan tentara tambahan ke kawasan Timur Tengah awal pekan ini saat ketegangan meningkat usai Kedutaan Besar AS di Baghdad diserang.

Juru bicara Departemen Pertahanan AS atau Pentagon menyebut bahwa sekitar 3.000 hingga 3.500 tentara tambahan akan dikerahkan ke Kuwait dalam waktu dekat.

“Brigade akan dikerahkan ke Kuwait sebagai langkah yang pantas dan langkah pencegahan dalam merespons peningkatan level ancaman terhadap personel dan fasilitas AS, dan akan membantu dalam menyusun kembali pasukan cadangan,” sebut Pentagon.

Sekitar 750 tentara juga telah dikirimkan dari unit itu dan telah tiba di Baghdad, untuk kemudian ditugaskan menjaga keamanan di Kedutaan Besar AS. Keputusan AS mengerahkan tentara tambahan ini bertentangan dengan pernyataan Trump sebelumnya soal rencana menarik mundur tentara-tentara AS dari zona konflik di Timur Tengah. (INI)

Temukan kami di Google News.