Kebhinekaan Bisa Rusak dengan Budaya Mudah Mengkafirkan Orang Lain

kafir
Ilustrasi

Inisiatifnews – Dosen Filsafat Universitas Halu Oleo (UHO), Dr. Idaman, M.A menyampaikan bahwa kebhinekaan di Indonesia bisa hancur jika bangsanya tidak bisa saling menghargai perbedaan. Apalagi sampai menganggap bahwa pahamnya lah yang paling benar sementara label kafir mudah sekali disematkan bagi orang yang tidak seirama dengan isi kepalanya.

“Kebhinekaan mulai dirusak akibat tidak adanya saling menghargai tentang perbedaan persepsi. Seakan yang tidak sepaham itu adalah kafir dan tidak mempunyai dalil,” kata Idaman dalam dialog kebangsaan dengan tema ‘Deradikalisasi Menuju Moderasi Kehidupan Sultra Dalam Merawat Kebhinnekaan’ yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa FATIK IAIN Kendari di Gedung Aula Mini Perpustakaan IAIN Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (17/12/2019).

Bacaan Lainnya

Di sisi lain, faktor perkembangan dunia digital dan internet juga menjadi faktor merebaknya paham radikal di Indonesia, khususnya bagi para netizen dan pengguna media sosial yang tidak memiliki bekal dasar yang kuat.

“Radikalisme juga terjadi karena sering menggunakan Medsos atau internet,” ujarnya.

Berdasarkan hasil survei APJII tahun 2016, jumlah pengguna Internet di Indonesia mencapai 132,7 juta orang dari 256,2 juta orang populasi Indonesia.

Jika melihat data itu, Idaman berpendapat bahwa potensi penyebaran paham radikal bisa menyasar setidaknya 51,8 persen populasi penduduk di Indonesia.

“Hal ini menggambarkan bahwa pengguna Internet di Indonesia mencapai 51.8% dari jumlah penduduk Indonesia seluruhnya,” tambahnya.

Perlu diketahui, bahwa berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tahun 2019, ada tren penurunan potensi radikal secara nasional yakni sebesar 16,6 persen dibanding tahun 2017 yang mencapai 55,12 persen.

Temukan kami di Google News.