Inisiatifnews – Analis ekonomi dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR), Gede Sandra menilai bahwa ancaman terhadap resesi ekonomi global saat ini tengah menghantui seluruh dunia.
Ia pun mengatakan, bahwa gejala resesi dunia semakin tampak saat mulai banyak negara terutama di Eropa yang memasang suku bunga negatif. Dengan demikian, yield surat utangnya pun banyak yang negatif juga.
Sederhananya, kata Gede, kalau Indonesia sampai membeli surat utang mereka, termasuk Jepang yang sudah lebih awal menerapkan negative interest rate, maka investasi Indonesia justru akan rugi termakan bunga negatif tersebut.
Agresivitas Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam meningkatkan eskalasi perang dagang dengan Tiongkok juga mengkhawatirkan banyak investor, karena kekuatan ekonomi perdagangan negara Paman Sam dan negara Tirai Bambu itu adalah yang terbesar pertama dan kedua di dunia.
Menurut Gede, dunia industri Tiongkok pun terpukul, growth diramalkan akan jatuh ke kisaran 5 persen. Permintaan bahan baku dan energi untuk industri Tiongkok pun ikut berkurang akibatkan harga komoditi semakin anjlok.
“Akibatnya, negara yang masih gantungkan devisanya pada ekspor komoditi mentah, seperti Indonesia, akan terpukul pada sisi ekspor. Percepatan deindustrialisasi juga terus terjadi. Pendapatan pajak pun semakin berkurang,” kata Gede Sandra dalam keterangan pers yang diterima wartawan, Kamis (5/9/2019).
Growth Indonesia, sambung Gede, kemungkinan akan jatuh ke kisaran 4,5 sampai 4,8 di akhir tahun 2019 ini. Tentunya dengan catatan; yakni apabila tidak ada langkah terobosan untuk memacu perekonomian yang dilakukan oleh pemerintah pusat.
Defisit transaksi berjalan Indonesia saat ini yang ukurannya melebihi tahun 1997, adalah yang terburuk di kawasan Asia Tenggara. Jadi mata uang Rupiah rentan terhadap spekulasi dari pemain pasar uang, relatif dari mata-mata uang sekawasan.
Separuh utang swasta nasional dalam valas, jadi kondisinya sangat rentan terhadap pelemahan Rupiah. Sehingga berkontribusi mengurangi growth juga.
“Hanya awan gelap yang terlihat di atas perekonomian Indonesia. Akibatnya para investor bukannya datang ke Indonesia, tapi memilih datang ke negara-negara yang growth nya lebih tinggi, seperti Vietnam,” papar Gede.
Akibatnya para investor bukannya datang ke Indonesia, tapi memilih datang ke negara-negara yang growth nya lebih tinggi, seperti Vietnam.
Masalah ekonomi yang ada saat ini, kata Gede, terlalu pelik dan berlarut-larut. Ini bukan tahun 2007-2008 yaitu saat harga komoditi masih sangat tinggi. Tidak berlaku di tahun 2019 ini.
Sementara itu, demi menjaga ketertiban pengembalian bunga dan pokok utang kepada kreditor, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menko Perekonomian Darmin Nasution mengorbankan subsidi untuk konsumen listrik 900kva dan subsidi BPJS.
“Akan banyak warga hampir miskin menjadi warga miskin,” paparnya.
“Sudah kita kira sejak jauh hari, pasti jalan austerity policy yang diambil SMI dan Darmin. Bukannya memompa ekonomi, dengan mengalirkan sumber daya ke masyarakat, rumus kebijakan SMI dan Darmin malah membuat masyarakat kelas bawah tercekik akibat naiknya harga listrik dan iuran BPJS.”
Anehnya, lanjut Gede, di tengah resesi, pemerintah malah memilih mengorbankan rakyat. “Kita belum lagi melihat kemarahan rakyat korban austerity policy,” tandas Gede Sandra.
Perlu diketahui, bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengumpulkan para menteri dan pejabat ekonomi di Kabinet Indonesia Kerja jilid II kemarin, Rabu (4/9).
Agenda dalam rapat terbatas (ratas) tersebut adalah mengantisipasi perkembangan perekonomian dunia.
Saat membuka ratas di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Presiden Jokowi mengatakan Indonesia harus sedia payung sebelum hujan, yaitu mengantisipasi kemungkinan terjadinya resesi.
“Akan kita bicarakan pada siang hari ini antisipasi perkembangan ekonomi dunia. Kita tahu semuanya, pertumbuhan ekonomi global telah mengalami perlambatan dan kemungkinan terjadinya resesi semakin besar,” katanya Rabu (4/9).
Untuk itu, Jokowi meminta kementerian/lembaga yang terkait bersiap-siap. Tujuannya supaya jika itu benar-benar terjadi bisa dihadapi oleh Indonesia.
“Oleh karenanya payung harus kita siapkan. Kalau hujannya besar kita nggak kehujanan,” sebutnya.
