Inisiatifnews – Dubes RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel mengunggah kenangan terakhirnya sowan (silaturrahmi) dengan KH Maimoen Zubair saat masih hidup.
Dan sowan dirinya bersama keluarga dan sejumlah pejabat di KBRI itu dianggapnya sebagai sebuah panggilan diri seorang santri kepada kiyainya.
“Sebagai santri yang di awal penugasan di Saudi dibekali sebuah “doa khusus” oleh Mbah Maimoen, saya merasa punya berkewajiban untuk menghadap beliau meski malam itu harus berjalan kaki sejauh 5 km karena semua jalan ditutup karena beberapa Kepala Negara sedang menuju ke Istana Raja Qasr Shafa,” tulis Agus Maftuh dikutip dari laman Facebook pribadinya, Kamis (8/8/2019).
Dalam pertemuan selama sekitar 2 jam bersama Mbah Maimoen, Agus Maftuh mengakui bahwa pihaknya sangat menyimak ngendikan (nasehat) dari ulama kharismatik asal Rembang, Jawa Tengah itu.
“Selama dua jam, keluarga besar saya mendengarkan dan menyimak nasehat-nasehat penuh hikmah dari Mbah Moen,” ujarnya.
Agus Maftuh juga menyampaikan bahwa di tengah-tengah silaturrahminya itu, Mbah Maimoen juga banyak bercerita tentang kisah jaman dahulu termasuk sosok ayahnya yang juga merupakan santri putra dari KH Zubair Dahlan itu.
Tidak hanya ayahnya saja yakni Abdurrasyid saja yang dibahas Mbah Maimoen Zubair. Agus Maftuh juga mengatakan jika kiyainya itu juga bercerita tentang ibundanya bahkan mertuanya pula.
“Nama mertua saya, H. Abdullah Zawawi bin KH. Hasbullah Kembang juga beliau singgung dalam ‘briefing tengah malam’ tersebut, karena hampir semua anak-anak H. Abdullah Zawawi yang mengijabkan ketika nikah adalah Mbah Maemun, termasuk saya juga diijabkan oleh beliau lengkap dengan tausiyahnya di tahun 1992,” terang Agus Maftuh.
Masih di sela-sela silaturrahminya itu, Agus Maftuh juga mengatakan bahwa Mbah Maimoen masih sempat melantunkan doa untuk bangsa dan negara Indonesia.
“Alhamdulillah, doa Mbah Moen masih dikumandangkan untuk Bangsa Indonesia dan juga untuk keluarga kami serta beberapa diplomat KBRI yang hadir pada tengah malam itu,” jelasnya.
Pertemuan sekitar 26 jam sebelum Mbah Maimoen wafat, Agus Maftuh sempat terperanjat ketika sebuah kalimat lirih dari Mbah Maimoen terucap, bahwa pertemuan mereka ternyata adalah pertemuan terakhir.
“Namun setelah berdoa, Mbah Moen mengagetkan kami semua dengan kalimat ‘Pertemuan ini adalah yang terakhir, terakhir’. Ternyata kalimat ini adalah pamitan beliau untuk menghadap Kekasihnya, Allah SWT. Subhanallah,” imbuhnya.
Pun demikian, Agus Maftuh mengaku sangat senang bisa tetap bangga dan bisa silaturrahmi dengan Mbah Maimoen.
“Dalam suasana duka yang dalam ini, saya bangga bisa sowan dengan Mbah Moen bersama istri dan anak-anak saya plus menantu. Sebuah kesempatan bersejarah untuk selalu dekat dengan Kyai yang ‘faridu asrihi’ satu-satunya di masanya,” tandasnya.
Terakhir, Agus Maftuh menyatakan bahwa dirinya akan terus menanamkan kepada diri anak-anaknya untuk tetap tawadlu’ dan bangga menjadi santri dan keturunan seorang kiyai. Karena baginya, label santri adalah label yang melekat seumur hidup tanpa batas ruang dan waktu, bukan seperti label duta besar yang saat ini tengah ia pikul itu.
“Saya juga bangga bisa mengajarkan kepada anak-anak saya untuk selalu dekat dengan Kyai dan berbangga menjadi anak-anak dari seorang santri,” tutur Agus Maftuh.
“Dan jangan berbangga menjadi anak-anak seorang dubes yang hanya merupakan ‘label sementara’. Karena label ‘santri’ adalah sebuah label yang ‘unending /ghairu mutanahiyah’, tak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu,” tutup Agus Maftuh.
Kini jenazah almarhum KH Maimoen Zubair Dahlan sudah disemayamkan di pemakaman umum Ma’la Makkah.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10217846630451984&id=1069523032
