AS Hikam Tak Setuju Indonesia Impor Rektor Asing

as hikam
Mohammad AS Hikam.

Inisiatifnews – Akademisi dari President University, Muhammad AS Hikam sepakat dengan adanya penolakan terhadap rencana Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) untuk mendatangkan rektor asing.

“Soal rencana mengimpor rektor. Saya termasuk tidak setuju dengan program Pemerintah (Menristek Dikti) untuk merekrut rektor dari luar negeri,” kata Hikam, Kamis (1/8/2019).

Bacaan Lainnya

Namun jika ada orang asing yang ingin melamar kerja sebagai rektor di kampus-kampus di Indonesia, ia tak mempermasalahkannya.

“Tapi saya setuju kalau ada orang dari luar negeri yang berkeinginan sendiri melamar jadi rektor di universitas-universitas di RI, ya silakan saja,” ujarnya.

Menurut Hikam, gagasan dari Kemenristek Dikti untuk mendatangkan rektor asing masuk ke Indonesia secara khusus adalah gagasan setengah matang. Maka dari itu ia menilai sebaiknya gagasan semacam itu ditolak saja. Dan ia pun mendukung sikap penolakan tersebut yang dilakukan oleh Komisi X DPR RI.

“Gagasan setengah matang kayak gitu harus ditolak. Bravo DPR Komisi X,” tegasnya.

Wakil Ketua Komisi X DPR Reni Marlinawati mengatakan, ide mendatangkan rektor asing untuk Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) semestinya dapat dihindari jika Kementerian Ristek dan Dikti dapat memetakan persoalan dan membuat solusi peningkatan kualitas perguruan tinggi di Indonesia.

“Gagasan lama ini ibarat jalan pintas dan instan untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi di Indonesia. Padahal, kunci ada di pemerintah sebagai pihak regulator,” kata Reni Marlinawati, Selasa (30/7).

Menurut Reni, selain akan bertabrakan dengan berbagai aturan seperti UU 14/2015 tentang Guru dan Dosen dan UU No 12/2012 tentang Perguruan Tinggi, rencana tersebut menunjukkan kurang maksimalnya Kementerian Ristek dan Dikti dalam membentuk sistem pendidikan tinggi yang visioner, ajeg dan adaptif dengan perkembangan jaman.

“Padahal dengan kewenangan yang dimiliki, pemerintah semestinya dapat membentuk sistem yang ajeg, visioner dan adaptif dengan perkembangan jaman. Kita jangan latah dengan menempel salin cara yang diterapkan oleh negara lain dengan impor,” tegas Reni.