Inisiatifnews – Sekretaris Jenderal DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno mengaku banyak pihak yang mempertanyakan arah politik partainya itu pasca-Pilpres 2019.
Eddy menyebut, pertanyaan-pertanyaan itu muncul dan ada mengaitkan dengan arah politik PAN yang berubah setelah pilpres 2014, dimana saat itu PAN satu barisan bersama Koalisi Merah Putih (KMP) yang mengusung Prabowo-Hatta Rajasa. Namun pada 2015, PAN merapat ke koalisi parpol pendukung pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla (JK).
“Saat ini kita banyak ditanya ‘PAN arahnya mau kemana, oposisi atau bergabung (ke pemerintah)?’ Bahkan seakan-akan sudah ada vonis lebih awal ‘PAN ini terlalu genit akan bergabung.’ Apalagi sudah ada presiden di tahun 2015 ketika PAN masih berada di KMP,” kata Eddy dalam diskusi publik bertajuk ‘Periode ke-2 Jokowi: Merangkai Gerbong Pendukung vs Menata Barisan Oposisi’ di kantor PARA Syndicate, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (19/7/2019).
Menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu, Eddy menjelaskan bahwa apa yang terjadi di 2015 dengan saat ini berbeda. Menurutnya, saat itu PAN memilih bergabung dengan koalisi parpol pendukung pemerintah agar menyeimbangkan kekuatan di parlemen terutama dalam mendukung akselerasi pembangunan dan ekonomi.
“2014 dengan sekarang berbeda, tepatnya 2015 kita melihat kekuatan politik yang ada di Parlemen ketika itu dikuasai KMP. Presiden bersama partai-partai koalisi yang mengusungnya itu justru minoritas, kalah suara kalah divoting,” ujarnya.
“Kita melihat program-program pemerintah terutama dari aspek akselerasi pembangunan dan ekonomi itu perlu didukung sehingga PAN ketika itu memutuskan untuk bergabung dengan pemerintah, otomatis perimbangan kekuatan di parlemen menjadi berubah, kuat di pemerintah,” jelas Eddy.
Sedangkan untuk saat ini, lanjut Eddy, tanpa PAN bergabungpun suara koalisi parpol pendukung pemerintahan sudah mayoritas di parlemen.
“Saat ini mungkin move itu tidak relevan lagi karena pemerintah dengan koalisi 01 sudah mayoritas, sudah sangat kuat, jadi saya kira itu tidak relevan lagi,” pungkasnya.
Lebih lanjut, Eddy menjelaskan, meski pemerintah memiliki dukungan yang sangat kuat di parlemen, namun pihaknya tidak akan meminta-minta kursi menteri.
“Tetapi bagi kami bukan karena kekuatan pemerintah sedang kuat itu kita kemudian meminta-minta untuk bergabung, tidak. Bukan karakternya PAN untuk meminta-minta, tidak sama sekali,” pungkasnya.
