KALAU meminjam istilah pewayangan untuk metafora bagi tokoh-tokoh yang sudah ditahan dan diduga sebagai ‘dalang’ kasus 22 Mei, sebenarnya mereka baru kelas Cakil dan kawan-kawannya.
Mereka ini biasanya disebut para raksasa atau “Buto” yang matinya sore. Biasanya sebelum episode “goro-goro”, guyonan para punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, Bagong dll.
Orang-orang pada evel para cakil itu fungsinya cuma menjadi provokator pembuat keributan. Tapi mereka juga umpan-umpan yang sengaja dikorbankan oleh otak konspirasi yang lebih tinggi levelnya.
Jadi yang kini ditangkapi Polri dengan tudingan mau bunuh empat pejabat, memiliki senjata ilegal dan lainnya itu ya, maaf saja, masih jauh dari level dalang dalam arti “otak” konspirasi.
Yang disebut terakhir itu tidak mungkin suka bekoar-koar di ruang publik, pamer kegagahan, dan mau dibayar murah.
Dalam pagelaran wayang, para otak ini kalau mati pun waktunya sudah hampir Subuh. Sebelum tancep kayon alias pagelaran usai. Jangan puas dulu, OK?
Prof. Muhammad A.S. Hikam adalah pengamat politik President University dan Menteri Negara Riset dan Teknologi Kabinet Persatuan Nasional era Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
